JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Italia tetap berpegang pada pendiriannya untuk tidak mengizinkan Ukraina melancarkan serangan ke wilayah Rusia dengan menggunakan senjata yang disuplai oleh negara-negara Barat. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, pada hari Minggu, setelah Parlemen Eropa memutuskan untuk mencabut larangan tersebut melalui pemungutan suara. Tajani menilai bahwa resolusi yang diambil tersebut tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Ia menyoroti bahwa Amerika Serikat juga belum memberikan izin bagi penggunaan senjata Barat tersebut untuk melawan Rusia. Ia mengungkapkan bahwa dalam paket bantuan militer ke-9 yang akan diberikan kepada Ukraina, terdapat rencana untuk penyediaan sistem rudal *Samp-T*. Namun, ia menegaskan, "kita tidak bisa membiarkan Kiev mengebom Moskow," sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Italia *Corriere della Sera*. Parlemen Eropa baru saja mengesahkan resolusi tidak mengikat dalam rapat pleno yang berlangsung di Strasbourg. Resolusi tersebut mendesak negara-negara anggota Uni Eropa untuk segera mencabut semua pembatasan terkait penggunaan senjata Barat oleh Ukraina terhadap target-target di Rusia. Tajani berpendapat bahwa momen dua bulan menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat pada bulan November memberikan peluang untuk mendorong proses perdamaian bagi Ukraina. "Kita semua menginginkan perdamaian, bahkan Amerika Serikat pun demikian," tambah Tajani. Ia juga mencatat bahwa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, memiliki keinginan yang sama agar Rusia dilibatkan dalam diskusi perdamaian yang akan datang. Tajani memperingatkan agar masyarakat internasional tidak mengambil sikap yang lebih ekstrem dibandingkan dengan Zelenskyy. Zelenskyy sebelumnya pernah menyatakan kepada media Prancis pada bulan Juli bahwa dia berharap Rusia dapat berpartisipasi dalam pertemuan puncak mendatang dalam konteks Ukraina. Ia berpendapat bahwa partisipasi Rusia sangat penting untuk mencapai "hasil yang berarti" dalam penyelesaian konflik yang sedang berlangsung. Pada bulan Juni lalu, Swiss telah mengadakan konferensi tingkat tinggi mengenai Ukraina. Meskipun Rusia tidak diundang untuk menghadiri acara tersebut, pihak Rusia mengungkapkan bahwa jika diundang, mereka pun tidak memiliki niatan untuk hadir. Terkait dengan pertemuan mendatang, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Galuzin, menyampaikan kepada *Sputnik* bahwa Moskow tidak akan menerima ultimatum dan tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan semacam itu. ANTARA