BORNEONEWS, Pulang Pisau - Dalam upaya pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau (Pemkab Pulpis) bekerjasama dengan USAID menggelar Dialog Forum Hapakat Lestari pengaturan Tata Air Dikawasan Gambut. Pertemuan yang berlangsung 4-5 Agustus 2016, di Aula Bappeda Pulpis itu, diikuti 14 perwakilan warga setiap kecamatan dari 8 kecamatan di Pulpis, serta sejumlah SKPD terkait.

Sebagai narasumber Adhi Siswadi Rahardjo, ahli Hyrology dari USAID Lestari menjelaskan, melalui forum ini dapat bersama mencari solusi terbaik bagi masyarakat serta dapat mengurangi dampak dari kebakaran.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2015, kata Adhi terdapat 5 kabupaten dengan titik api paling besar dan areal terbesar cukup luas di Kalimantan Tengah.

Pada 2015 tercatat lebih dari 23.000 titik panas dari seluruh wilayah Indonesia, melalui pantauan satelit Terra dan Aqua yang tersebar di 11 provinsi. Total titik panas terbanyak di wilayah Kalteng, rata-rata 11.000 titik api.

Sebagai wilayah dengan tingkat kebakaran yang begitu tinggi di Kalimantan tengah dari 14 kabupaten/kota, Pulang Pisau menduduki urutan pertama pada Agustus dengan titik api sebanyak 1.224 , September sebanyak 3.803, dan Oktober 2.507 pada tahun 2015.

Dia mengatakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan ini sangat luar biasa bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat, menurut hasil studi yang dilakukan USAID LESTARI tahun 2015 menunjukan luas lahan yang terbakar Katingan-Kahayan mencapai 304.133 ha, dan kerugian perkebunan karet masyarakat mencapai Rp.821 juta atau Rp.7,5 juta per hektar.

Harapannya melalui pendekatan holistik untuk pengelolaan kebakaran, semua pihak, baik instansi pemerintah, swasta dan masyarakat dapat bersinergi dan bersama saling mendukung dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan  tahun ini dan tahun-tahun mendatang. (JAMES DONNY/N).