BORNEONEWS, Kotim - Meskipun masih ada hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotawaringin Timur (BPBD Kotim) masih siaga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Ini bagian dari sikap waspada, selain karena saat ini sudah memasuki musim kemarau.
"Walau masih terjadi hujan deras, kami tetap waspada karhutla. Memang kemarau tahun ini masih ada hujan, namun kebakaran lahan masih terjadi dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir,” ujar Kepala Bidang BPBD Kotim, Sutoyo, di Sampit, Jumat (5/8/2016).
Dari data BPBD, di Kota Sampit saja sudah ada kebakaran lahan pada delapan titik. Dan itu terjadi sejak Juli hingga awal Agustus 2016. Karena itu, BPBD terus bersiaga.
Sedangkan untuk di Kotim, tingkat kerawanan kemarau berbeda-beda. Dengan itu sejumlah wilayah juga akan terjadi kekeringan, yang berdampak susahnya mencari air.
Hal itupun diprediksi terjadi di Kecamatan Telawang, Kecamatan Telaga Antang, Baamang, Bukit Santuei, Kota Besi, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, dan Parenggean. Daerah yang agak kering, Kecamatan Cempaga Hulu dan Mentaya Hilir Selatan. Sedangkan kekeringan normal terjadi di Teluk Sampit, Seranau, Pulau Hanaut dan Cempaga.
“Kemarau ini kami tidak hanya siaga karhutla, namun juga bencana kekeringan. Karena air adalah kebutuhan dan konsumsi masyarakat,” ungkap Sutoyo.
Sementara dari pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Bandara H Asan Sampit, di Kotim baru ada satu titik panas yang terpantau dari satelit. Dan hal itu juga sudah hilang akibat hujan deras Jumat (5/8/2016).
“Memang ada terpantau satu titik panas di Kecamatan Telawang. Namun setelah hujan deras sekitar pukul 04.00 WIB hingga 07.00, titik panas itu kembali hilang,” kata Pelaksana Tugas BMKG Sampit, Mulyono Leo Nardo, Jumat (5/8/2016). (M. HAMIM/N).








