BATAM –
**Borneonews - Batam**, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, yang terletak di Kepulauan Riau, telah menjalin kerjasama dengan sejumlah komunitas masyarakat untuk mengendalikan penyebaran Virus Imunodefisiensi Manusia (*Human Immunodeficiency Virus* atau HIV) serta penyakit yang disebabkan olehnya, yaitu sindrom imunodefisiensi yang didapat (*Acquired Immunodeficiency Syndrome* atau AIDS). Kolaborasi ini dilakukan melalui pelaksanaan program *Pre-Exposure Prophylaxis* atau yang lebih dikenal dengan sebutan *PreP*. Inisiatif ini merupakan tindakan pencegahan yang dirancang untuk meminimalkan risiko penularan HIV, terutama bagi individu yang berada dalam kategori berisiko tinggi, seperti pekerja seks. Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa program *PreP* menyediakan akses obat antiretroviral (*ARV*) secara gratis bagi mereka yang memenuhi kriteria, yakni individu yang memiliki risiko tinggi terhadap paparan HIV dan telah dinyatakan negatif terjangkit virus tersebut. Didi menjelaskan bahwa pengadaan obat-obatan ini dilakukan oleh Kementerian Kesehatan yang kemudian dikirimkan kepada Dinkes Batam. Selanjutnya, Dinkes akan mendistribusikan obat kepada beberapa mitra komunitas di Batam. "Kami bekerja sama dengan berbagai komunitas seperti Embun Pelangi, Yayasan Kompak Batam, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Batam. Mereka bertanggung jawab dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan HIV dan akan memberikan obat ARV kepada individu yang memenuhi syarat," ujarnya. Program ini juga dapat diakses di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas Lubuk Baja dan Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Didi menambahkan, peluncuran program ini dimulai pada awal tahun dengan tujuan menekan angka penularan HIV serta memberikan perlindungan kepada individu yang berisiko, dimana semua ini sejalan dengan arahan dari pemerintah pusat. Lebih lanjut, Didi mengungkapkan bahwa program *PreP* dilaksanakan secara sukarela dan dalam kerahasiaan, sehingga Dinkes tidak memiliki akses terhadap data pribadi para peserta yang terlibat dalam program tersebut. "Pendekatan yang kami terapkan bersifat personal. Kami melakukan kerjasama dengan mitra agar mereka dapat lebih dekat dengan calon peserta. Jika langsung kami yang mendekati, kemungkinan besar mereka akan merasa tidak nyaman dan menghindar," tambahnya menjelaskan. Hingga bulan Agustus 2024, Dinkes Batam mencatat adanya 527 kasus terpapar HIV, di mana 61 di antaranya telah bertransformasi menjadi AIDS dan 56 orang dilaporkan meninggal akibat penyakit ini. Ketika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya, angka ini cukup mengkhawatirkan, apalagi jika melihat bahwa jumlah kasus pada tahun 2022 mencapai 635 kasus dan pada tahun 2023 tercatat 752 kasus. Didi berharap agar dengan adanya program *PreP*, kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan HIV dapat meningkat, sehingga kasus pengidap HIV di Kota Batam dapat terkontrol dengan lebih baik. ANTARA