BOGOR –
**Borneonews - Bekasi**, Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kota telah mengungkap fakta bahwa tujuh korban yang terlibat dalam insiden di Kali Bekasi diketahui telah mengonsumsi minuman keras sebelum kejadian tragis tersebut. Korban yang terlibat memutuskan untuk melompat ke dalam sungai setelah kehadiran petugas polisi yang melakukan penggerebekan. Komisaris Polisi Audy Jozie Oroh, yang menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan saksi, para korban terlibat dalam aktivitas mengonsumsi minuman beralkohol di lokasi tersebut. Di samping itu, ditemukan juga indikasi adanya senjata tajam di sekitar tempat kejadian. Kasus ini bermula dari informasi yang diterima pihak kepolisian dari masyarakat mengenai sekelompok remaja yang mengonsumsi minuman keras sambil membawa senjata tajam. Merespons laporan tersebut, Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Bekasi Kota segera meluncur ke lokasi untuk melakukan penggerebekan. Pada hari Sabtu, sekitar pukul 03.30 WIB, petugas tiba di lokasi. Begitu mengetahui keberadaan tim kepolisian, sekelompok remaja tersebut berusaha melarikan diri. Sebagian remaja berlarian menuju perumahan penduduk, sementara yang lainnya melarikan diri ke arah Kali Bekasi. Setelah melompat ke dalam Kali Bekasi, beberapa remaja tersebut hilang dan akhirnya ditemukan tewas mengambang pada Minggu, 22 September 2024. Sementara itu, terdapat beberapa remaja lain yang tidak berani melompat karena situasi tempat yang gelap dan tidak aman, sehingga mereka berhasil diamankan oleh Tim Perintis Presisi. Dalam insiden ini, petugas berhasil membawa 22 remaja ke Mapolres Metro Bekasi. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya diketahui memegang senjata tajam. Proses penanganan kejadian ini meliputi olah tempat kejadian perkara, evakuasi jenazah ke Rumah Sakit Polri, serta pemeriksaan terhadap 23 orang saksi. Pihak kepolisian juga melakukan prioritas rekonstruksi dengan melibatkan Basarnas, BPBD, dan Tim SAR. Saat ini, pihak kepolisian masih menunggu hasil autopsi dari RS Polri Kramatjati dan melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap lebih jauh terkait fakta yang terjadi di lapangan. Penyelidikan dilakukan dengan pendekatan kolaboratif lintas profesi, di mana pihak kepolisian tidak hanya menggunakan metode penyelidikan konvensional. Mereka menerapkan metode *scientific crime identification* untuk memastikan setiap langkah yang diambil bersifat akuntabel dan dapat mengungkapkan kebenaran dari insiden ini. ANTARA