JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wahidin, mengungkapkan bahwa sekitar 34,95 persen dari total kebutuhan kontrasepsi modern di Indonesia dilayani melalui Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB). Wahidin menjelaskan bahwa praktik mandiri bidan memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian pelayanan kontrasepsi. Berdasarkan pembaruan data pemutakhiran pendataan keluarga tahun 2023, klinik bidan menjadi salah satu layanan terpenting dalam program ini. Dalam diskusi yang diadakan secara daring di Jakarta pada hari Senin, ia menyebutkan bahwa persentase pelayanan kontrasepsi di TPMB adalah yang tertinggi jika dibandingkan dengan layanan yang diberikan oleh puskesmas, klinik, atau rumah sakit swasta. Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam penyelenggaraan program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, di mana bidan berperan sebagai garda terdepan. Menurutnya, di luar TPMB, sebagian besar pelayanan kontrasepsi juga dilakukan oleh bidan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), baik yang dikelola pemerintah maupun swasta. Bidan berkontribusi luar biasa dalam pelayanan KB, yang estimasinya mencapai 80 persen dari total pelayanan. Berdasarkan hal ini, Wahidin menyampaikan apresiasi kepada semua bidan atas peran penting mereka dalam mewujudkan keberhasilan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana yang dikenal dengan sebutan Bangga Kencana. Dalam kesempatan yang sama, Novi Anggriani, perwakilan Global Affairs of Canada, yang berkolaborasi dengan BKKBN dalam upaya peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak di Indonesia, menyatakan bahwa pihaknya terus berkomitmen untuk mendukung Pemerintah Indonesia. Dukungan ini difasilitasi melalui Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) dan organisasi mitra lainnya, termasuk Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Program yang dikenal dengan nama *Better Reproductive Health and Rights for All in Indonesia* (Berani) telah berjalan dalam dua tahap, yang dimulai pada tahun 2018-2023 dan kemudian dilanjutkan hingga 2027, dengan total dana sebanyak 20 juta dollar Kanada. Anggriani juga menekankan pentingnya kesehatan reproduksi bagi semua individu, terutama bagi perempuan dan anak-anak perempuan. Ia percaya, apabila hak-hak seluruh perempuan diakui dan dipenuhi, termasuk dalam hal kesehatan reproduksi, mereka akan mampu berkontribusi secara maksimal dalam kehidupan masyarakat, sehingga mendukung upaya mencapai kesetaraan untuk semua. ANTARA