BORNEONEWS, Kobar - Beberapa RT di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), belum memiliki pemadam kebakaran (damkar) portable. Kebakaran yang menghanguskan rumah Gusti M. Bayan, di RT 05, Kelurahan Raja Seberang, Senin (1/8/2016), lebih pada ketiadaan unit pemadam kebakaran portable di Rukun Tetangga (RT) setempat.
Dari data yang diperoleh Borneonews, di wilayah Kelurahan Raja Seberang, hanya tiga RT yang memiliki alat Damkar portable baik hasil swadaya masyarakat atau bantuan dari Pemkab Kobar, yakni RT 01, 02 dan 03. Tiga lainnya, RT 04, 05 dan 06 belum memiliki. Padahal kondisi rumah penduduk yang mayoritas terbuat dari material kayu itu jaraknya saling berdempeten dan rawan terjadinya bahaya kebakaran.
Ketua RT 04, Kelurahan Raja Seberang, Nurlina mengatakan ketiadaan alat damkar di wilayahnya membuatnya was-was memasuki musim kemarau ini. Bukan hanya khawatir terhadap bahaya kebakaran di kawasan permukiman tetapi juga akibat kebakaran hutan dan lahan. Apalagi RT 04 dan 05 dekat dengan hutan dan padang rumput ilalang.
"Khawatir itu pasti ada, apalagi kita belum miliki alat Damkar, sementara kalau kita minta bantuan RT lain, tentu saja keterbatasan akses jalan yang jauh menjadi kendala," tutur Lina, di kediamannya, Jumat (5/8/2016).
Untuk pengadaan alat damkar, masyarakat secara swadaya mengumpulkan dana untuk membeli mesin pemadam portable bekas, namun karena keterbatasan dana yang dimiliki baru mesin yang terbeli. Itu pun beberapa komponen dalam mesin perlu pembenahan. "Selang dan banyak komponen dalamnya perlu dibeli, jadi baru mesin tua ini yang ada," kata Lina.
Salah satu warga Kelurahan Raja Seberang, Wandi menambahkan, di kelurahannya baru ada tiga RT yang memiliki alat damkar, apabila terjadi kebakaran sepertinya sulit untuk membawa alat tersebut ke wilayahnya. Pasalnya, jarak antara RT mereka dan RT yang mempunyai alat Damkar sangat jauh, tidak mungkin mesin yang berat tersebut dapat terangkut apalagi melihat kondisi jalan jembatan yang rapuh membuat riskan apabila dilalui dengan beban berat.
" Intinya tiap RT harus ada, kejadian kebakaran kemarin bisa menjadi contoh, karena tidak ada alat damkar masyarakat tidak bisa berbuat banyak," tegas Wandi.
Untuk itu ia berharap, agar pemerintah dapat memperhatikan hal ini, apalagi musim kemarau ini potensi terjadinya bahaya kebakaran semakin besar. (KOKO SULISTYO/N).








