JAKARTA –
**Borneonews - Washington**, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengungkapkan kekhawatirannya terkait meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah, kelompok bersenjata asal Lebanon. Dalam pernyataannya pada hari Minggu, Biden menegaskan bahwa situasi di Timur Tengah saat ini memerlukan perhatian serius. Ketika ditanya oleh awak media mengenai kemungkinan terjadinya eskalasi konflik lebih lanjut, Biden menjawab, "Ya, saya khawatir." Ia menambahkan bahwa pemerintahannya akan berupaya maksimal untuk mencegah terjadinya peperangan yang lebih luas. "Kami masih bekerja keras," ujarnya, sekaligus menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas di kawasan tersebut. Peningkatan ketegangan ini dipicu oleh serangan udara yang dilakukan Israel pada Jumat (20/9), yang menargetkan lokasi di pinggiran selatan Beirut. Akibat serangan ini, dilaporkan setidaknya 45 orang kehilangan nyawa, termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak, serta puluhan orang lainnya mengalami cedera. Hizbullah mengonfirmasi bahwa dalam serangan tersebut, sebanyak 16 anggotanya yang terdiri dari pimpinan senior Ibrahim Aqil dan komandan utama Ahmed Wahbi, juga menjadi korban jiwa. Serangan ini terjadi tidak lama setelah insiden ledakan perangkat komunikasi nirkabel di seluruh Lebanon yang menewaskan setidaknya 37 orang dan melukai lebih dari 3.000 lainnya. Baik Pemerintah Lebanon maupun Hizbullah menyalahkan Israel atas kejadian tersebut. Sejak dimulainya perang Israel di Gaza, yang terjadi setelah serangan lintas perbatasan oleh kelompok Palestina, Hamas, pada 7 Oktober tahun lalu, ketegangan antara Hizbullah dan Israel semakin meningkat. Dalam konflik yang berlangsung, tercatat lebih dari 41.400 orang tewas, kebanyakan di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Situasi di Timur Tengah terus menjadi perhatian dunia, dan upaya diplomatik untuk meredakan konflik menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan yang ada. ANTARA