PEKANBARU –
**Borneonews - Kampar**, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, melalui Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan Suligi Batu Gajah, baru-baru ini menjalin kerja sama dengan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) untuk menyerahkan 1.500 bibit *vanili*. Penyerahan ini dilakukan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Lembah Ulu Kasok yang bertempat di Desa Koto Masjid, Kabupaten Kampar. Dalam kesempatan tersebut, Kepala UPT PKH Suligi Batu Gajah, Dendy Saputra, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal yang positif dalam usaha meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Ia menekankan pentingnya pergeseran pola pikir masyarakat di Riau agar tidak hanya terfokus pada penanaman kelapa sawit dan penebangan hutan. Dendy menyatakan bahwa tanaman *vanili* menawarkan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Ia menjelaskan bahwa produktivitas satu hektar tanaman *vanili* dapat setara dengan hasil dari setengah hektar kebun kelapa sawit. *Vanili* juga dikenal ramah lingkungan karena dapat tumbuh di bawah tanaman pelindung, sehingga tidak membutuhkan penggundulan hutan untuk pengembangan lahan. Hal yang serupa juga disampaikan oleh Ricky Priksuma Ariseto, General Manager Area Office Sumatera PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. Ia menegaskan bahwa perusahaan mendukung program ini sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ricky menekankan bahwa tanaman *vanili* dapat tumbuh di area hutan tanpa memerlukan penebangan pohon, sehingga penyelenggaraan ekosistem tetap terjaga. Penanaman bibit *vanili* juga merupakan perwujudan nyata komitmen Mitratel terhadap prinsip-prinsip *Environment, Social, and Governance* (ESG), terutama dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Candra Budi, selaku ketua KTH Lembah Ulu Kasok, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang diterima. Ia menceritakan sejarah kelompoknya yang terdiri dari 16 orang ini, yang sebelumnya melakukan penanaman secara mandiri dengan berbagai tanaman, seperti kopi, pinang, dan durian tembaga, di lokasi yang terpisah. Kini, dengan dukungan dari KPH dan Mitratel, mereka akan mengembangkan lahan seluas satu hektar khusus untuk *vanili*. Candra menambahkan, "Kami menerima 1.500 bibit *vanili* dan akan menanamnya di lahan milik kelompok tani kami." Salah satu pembina program ini berasal dari Solok Selatan, Sumatera Barat, juga turut hadir untuk memberikan arahan. Ia menjelaskan bahwa bibit *vanili* dianjurkan untuk ditanam di batang yang dilapisi sabut kelapa, dan serat sabut yang digunakan sebagai media tanam sangat optimal untuk pertumbuhan. "Pemilihan sabut kelapa sebagai media tanam adalah keputusan yang bijak karena terbukti mampu mendukung pertumbuhan *vanili*. Waktu yang dibutuhkan hingga tanaman berbuah adalah sekitar dua tahun. Selain itu, setiap kilogram *vanili* segar dapat dijual dengan harga sekitar Rp450 ribu. Setelah melalui tahap pengolahan, harga buah *vanili* kering dapat mencapai Rp5-6 juta," tambahnya. Ia juga menyebutkan bahwa tanaman *vanili* sangat sesuai untuk ditanam di Desa Koto Masjid, mengingat daerah ini terkenal dengan budidaya ikan patin. Limbah air dari kolam serta ketamba ikan patin diyakini memberikan manfaat yang baik bagi pertumbuhan *vanili*. ANTARA