JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pentingnya menciptakan ruang dialog tussen orang tua dan anak-anak sangatlah krusial untuk mencegah terjadinya tindakan negatif seperti tawuran. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., mengingatkan bahwa baik orang tua maupun guru perlu aktif dalam membuka komunikasi dengan para remaja. Tujuannya adalah agar anak-anak dapat mengembangkan kesadaran diri dalam mengambil keputusan, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai pengaruh negatif. Novi mengungkapkan bahwa dialog yang intensif antara orang tua dan anak sangat penting untuk lebih memahami perasaan, keinginan, serta harapan yang dimiliki anak. Dengan pemahaman yang lebih dalam ini, orang tua dapat mengarahkan remaja kepada kegiatan yang lebih positif dan konstruktif. Fenomena tawuran ternyata semakin sering terjadi di kalangan remaja, khususnya mereka yang masih bersekolah di tingkat menengah. Baru-baru ini, ditemukan tujuh mayat di Kali Bekasi, di kawasan Perumahan Pondok Gede Permai, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. Para korban diduga merupakan pelaku tawuran yang berusaha melarikan diri dengan melompat ke sungai pada hari Minggu, 22 September. Sementara itu, di lokasi lain, Polres Metro Tangerang Kota telah menangkap delapan remaja pelajar yang hendak terlibat tawuran dan membawa senjata tajam. Penangkapan terjadi pada hari Senin, 23 September, di dua lokasi berbeda: Kampung Baru, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, dan area pemakaman di Jalan Pengayoman Selatan, Buaran Indah Kota Tangerang. Novi menambahkan bahwa sebagian besar anak-anak hingga remaja membutuhkan saluran untuk menyalurkan kekuatan fisik mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendorong mereka untuk terlibat dalam kegiatan fisik seperti bela diri atau olahraga lainnya. Orang tua juga diimbau untuk membantu anak-anak menemukan hobi yang bisa mereka geluti sebagai cara untuk mengisi waktu luang di sela-sela kegiatan sekolah. Lebih jauh, anak-anak remaja sebaiknya dilatih untuk terlibat dalam berbagai aktivitas sosial yang bersifat sukarela, sehingga mereka mampu mengembangkan rasa empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. "Ciptakan ruang yang seluas-luasnya bagi remaja untuk menemukan identitas diri mereka, kekuatan, dan *passion*, sehingga mereka merasa berarti. Pada anak yang membutuhkan saluran untuk kekuatan fisik atau potensi kepemimpinan, dukungan dan fasilitas yang tepat juga harus diberikan," tutupnya. ANTARA