**Borneonews - Gresik**, Penjabat Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, mengungkapkan keyakinannya bahwa keberadaan smelter yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia di kawasan ekonomi khusus Gresik akan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian di Jawa Timur. Smelter ini telah diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dan diharapkan dapat menghadirkan *multiplier effect* yang menguntungkan bagi masyarakat setempat.
Adhy Karyono menekankan bahwa proyek ini akan menyuntikkan nilai investasi yang sangat besar, dengan total anggaran mencapai 3,7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp58 triliun. Lokasi pembangunan smelter sendiri mencakup area seluas 104 hektare, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak yang luas bagi kawasan sekitar.
Sektor industri dinyatakan sebagai penyumbang utama bagi pertumbuhan ekonomi di Jatim, dengan kontribusinya mencapai 31,54 persen. Sementara itu, sektor perdagangan menyusul dengan kontribusi sebesar 19,01 persen. Terutama dalam industri logam dasar, investasinya mencapai Rp14,3 triliun, menjadikannya sebagai sektor dengan realisasi investasi ketiga terbesar di Jatim baik dari Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Dari segi kesempatan kerja, proyek pembangunan smelter telah menyerap sekitar 40 ribu tenaga kerja. Adhy menyatakan bahwa 99 persen dari tenaga kerja yang terlibat merupakan warga negara Indonesia, di mana 70 persennya berasal dari Jawa Timur. Ini menjadi kabar baik bagi pengangguran di sekitar lokasi smelter, karena memberikan peluang kerja baru.
Dampak dari *multiplier effect* ini juga termasuk peningkatan penerimaan pajak. Adhy Karyono menyebutkan bahwa kehadiran smelter tersebut akan menambah dua jenis pajak baru. Pertama adalah Pajak Mineral Bukan Logam dan Bantuan (MBLB), dan yang kedua adalah Pajak Air Permukaan dan Air Tanah. Ketika smelter mulai beroperasi, kebutuhan akan bahan baku seperti batu gamping, dolomit, dan pasir kuasa akan meningkat, dan bahan baku tersebut sebagian besar diambil dari wilayah Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro.
Sementara itu, untuk kebutuhan air, smelter akan disuplai oleh Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Umbulan yang akan mengalir melalui PDAM Gresik dengan kapasitas 150 liter per detik. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku mencakup tiga juta ton per tahun bagi PT Freeport Indonesia dan PT Smelting, Adhy yakin bahwa tuntutan akan Pajak MBLB akan meningkat, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada peningkatan pendapatan pajak daerah dan provinsi.
Dengan demikian, proyek ini tidak hanya menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, tetapi juga kontribusi yang lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar Gresik dan Jawa Timur secara keseluruhan.
ANTARA
Smelter Freeport di Gresik, Dampak Positif bagi Ekonomi Jatim
Bagikan:

SURABAYA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Peringati Hari Pangan Sedunia, Pemkab Gumas Jual Pangan Murah di GPM
Pemerintah Catat Investasi KEK Rp46 Triliun hingga September 2026
Pemprov Kalteng Salurkan Masker dan Vitamin untuk Masyarakat Terdampak Karhutla
50 Kepala Sekolah Plt, DPRD Palangka Raya Minta Wali Kota Segera Tetapkan Definitif
Agustiar Sabran Ajak Masyarakat Berdoa agar Karhutla Berakhir
Karhutla Meluas, DPRD Palangka Raya Desak Pemerintah Pusat Tetapkan Bencana Nasional
Komentar (0)
Memuat komentar…







