JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Indonesia Anti Doping Organization (IADO) telah mengirimkan total 784 sampel urine atlet yang berpartisipasi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024 ke Bangkok, Thailand, guna menjalani tes doping. Ketua Umum IADO, Gatot S Dewa Broto, menjelaskan bahwa seluruh sampel urine tersebut diambil dari para atlet yang berhasil meraih juara, memecahkan rekor, serta yang menjadi target dari 21 cabang olahraga yang dipertandingkan di Aceh dan 25 cabang di Sumatera Utara. Proses pengambilan sampel dilakukan dalam rangka pelaksanaan pengawasan anti-doping untuk PON yang berlangsung dari 9 hingga 20 September. Dari total sampel yang dikirim, IADO telah menerima hasil pemeriksaan pertama sebanyak 80 sampel, dan seluruhnya dinyatakan negatif terhadap doping. Untuk tahap berikutnya, Gatot menegaskan bahwa hasil dari sampel yang dikirim tidak akan diumumkan hingga proses persidangan oleh Komite Result Management IADO selesai. Gatot juga mengungkapkan bahwa secara ideal, seharusnya seluruh cabang olahraga yang berlaga di PON mendapatkan pengambilan sampel. Namun, keterbatasan dana untuk pengawasan doping menyebabkan hanya sebagian kecil saja yang dapat diperiksa, yakni tidak mencapai 10 persen dari total atlet yang ada. Sampel yang diambil pun tidak mencapai jumlah minimum sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Ayat 3 Surat Keputusan Ketua Umum KONI Pusat No. 74 Tahun 2022. Sebagai langkah selanjutnya, IADO melakukan pemetaan dan identifikasi untuk sejumlah cabang olahraga, yang utamanya adalah cabang olahraga berbasis *Olimpiade*, Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), serta cabang yang berisiko terhadap penggunaan zat terlarang, meskipun tidak berbasis *Olimpiade*. Untuk pelaksanaan tersebut, IADO menerapkan skala prioritas sehingga tidak mengurangi kualitas dan standar dalam pengawasan doping. Gatot juga menyampaikan apresiasinya kepada Dinas Kesehatan Aceh dan Dinas Kesehatan Sumatera Utara yang telah mendukung kelancaran pengawasan doping ini. Kerjasama yang terjalin dengan baik tersebut, menurutnya, memberikan ruang bagi IADO untuk beroperasi secara maksimal, meskipun awalnya harus melakukan upaya ekstra untuk mengatasi keterbatasan yang ada. ANTARA