**Borneonews - Badung**, Indonesia terus memperkuat sistem komunikasi dalam menghadapi keadaan darurat melalui peluncuran resmi *Disaster Prevention Information System* (DPIS) dan *Early Warning System* (EWS) yang memanfaatkan teknologi siaran TV digital.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, secara simbolis memperkenalkan dua sistem ini sebagai bagian dari penguatan sistem komunikasi kebencanaan yang sudah ada sebelumnya, yaitu EWS berbasis SMS Blast yang diluncurkan pada tahun 2016. Budi berharap bahwa sistem DPIS dan EWS TV Digital ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan dalam penyebarluasan informasi mengenai bencana serta berbagai upaya mitigasi yang diperlukan.
Dalam acara peluncuran tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan simulasi mengenai berbagai tanda serta cara kerja dari EWS TV Digital. Selain itu, mereka juga memperkenalkan sistem DPIS kepada para relawan serta petugas yang terlibat dalam penanganan bencana.
DPIS dikembangkan oleh Direktorat Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Ditjen PPI) Kemenkominfo sebagai sebuah aplikasi berbasis web atau *web apps*. Hal ini diharapkan dapat digunakan oleh petugas dan relawan di berbagai tingkatan, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota untuk menyebarkan informasi kebencanaan. Dengan demikian, diharapkan tercipta antisipasi dan penanganan yang lebih efektif terhadap bencana yang mungkin terjadi.
Pembangunan sistem ini melibatkan kerjasama antara Kementerian Kominfo dan berbagai kementerian serta lembaga yang terkait, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), yang bersinergi dengan perangkat daerah seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Implementasi ini dapat terwujud berkat dukungan hibah dari Pemerintah Jepang senilai 1,49 juta Yen, setara dengan Rp1,57 miliar. Perwakilan JICA Indonesia, Takeda Sachiko, mengungkapkan harapannya agar sistem yang disediakan oleh Jepang dapat membantu Indonesia dalam membangun infrastruktur kebencanaan yang lebih canggih, terutama mengingat kedua negara memiliki kesamaan latar geografis yang rawan terhadap bencana seperti gempa bumi dan tsunami.
Sachiko juga menjelaskan bahwa DPIS diharapkan dapat mengintegrasikan penyampaian informasi bencana, menjaga stabilitas komunikasi, serta mempercepat penyebaran informasi terkait tsunami dan gempa kepada masyarakat. Dengan adanya sistem ini, diharapkan dampak dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana dapat diminimalisir.
Mengenai EWS TV Digital, Menteri Budi menjelaskan bahwa sistem ini memanfaatkan saluran TV digital yang kini mendominasi penyiaran di Indonesia. Sistem ini akan bekerja berdasarkan kode pos di wilayah yang terkena dampak. Dalam hal ini, semua penyelenggara *multipleksing*, baik lembaga penyiaran publik maupun swasta, dilibatkan untuk memberikan informasi kebencanaan di daerah yang terpengaruh.
Masyarakat yang mengalami dampak akan dapat menerima siaran ini melalui televisi digital mereka, yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk melakukan evakuasi atau tindakan penyelamatan diri sebelum bencana terjadi lebih lanjut. Dengan memanfaatkan *coverage* TV digital yang mencakup sekitar 76 persen populasi di Indonesia, sistem ini akan memberikan informasi langsung dari otoritas dalam bidang deteksi dini kebencanaan, yang akan ditayangkan dengan cara menginterupsi siaran yang sedang ditonton.
Peluncuran DPIS dan EWS TV Digital dipandang sangat penting, terutama ketika memertimbangkan adanya prediksi potensi gempa *megathrust* yang telah disampaikan oleh BMKG beberapa waktu lalu. Diharapkan, peluncuran sistem ini dapat mendukung upaya mitigasi bencana yang lebih baik di seluruh wilayah Indonesia.
ANTARA
Indonesia Luncurkan DPIS dan EWS TV Digital untuk Mitigasi Bencana
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Yusril: Kebijakan Publik Harus Berorientasi Kepentingan Masyarakat
Raharjati Nursamsa Raih Perak World Climbing Series di Chile
ISPU Kapuas Melonjak dari 1.657 ke 2.406 dalam Sejam, Udara Berstatus Berbahaya
Imam/Fairuz Tempati Peringkat Keempat AVC Suma Open 2026
Kemenperin Bidik Industri Animasi Perluas Penyerapan Tenaga Kerja
Wamenekraf Ajak Pelaku Ekraf Daerah Bidik Pasar Lebih Luas
Komentar (0)
Memuat komentar…







