BORNEONEWS, Seruyan - Bupati Seruyan Sudarsono kembali mengklaim penegasan jika bandara Seruyan yang berada di Kuala Pembuang  merupakab satu-satunya bandara di Kalimantan Tengah yang bebas dari kepungan kabut asap tebal ketika terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut bupati, berkaca dari pengalaman terjadinya karhutla 2015, hampir semua bandara yang melayani jasa penerbangan di Kalimantan Tengah, khususnya untuk penerbangan antarpulau, terpaksa banyak yang mengalami gangguan penundaan jadwal penerbangan hingga aktivitas bandara lumpuh total. Kondisi itu lantaran jarak pandang penerbangan bagi pilot sangat pendek dan terbatas, sehingga dinilai membahayakan keselamatan penerbangan.

"Contohnya seperi bandara di Sampit, Pangkalan Bun ataupun Palangkaraya. Penerbangan pada bandara yang dimaksud sering mengalami gangguan penerbangan hingga lumpuh total karena tebalnya asap yang menyelimuti area bandaranya," kata Sudarsono usai meninjau bandara Kuala Pembuang, baru-baru ini.

Secara geografis, jelas Sudarsono, wilayah Seruyan khususnya Kuala Pembuang merupakan kawasan daerah yang langsung berbatasan dengan laut Jawa. Sehingga pihaknya dari pemerintah daerah sangat merasa diberikan keuntungan dari segi faktor peningkatan layanan transportasi udara.

"Tingginya intensitas tiupan angin yang mengarah dari pulau Jawa ke Kuala Pembuang, tidak berdampak terhadap kemunculan kabut asap tebal. Tidak seperti pada sejumlah daerah kabupaten lain di Kalteng," ungkapnya.

Sebagai persiapan awal pemerintah daerah, lanjut Sudarsono, saat ini masih tengah dibangunkan terminal baru bagi penumpang pesawat dengan ukuran luas areal 600 meter persegi yang pendanaannya bersumber dari APBN senilai Rp7,5 miliar lebih.

"Tujuan pembangunan terminal baru itu, bandara kita ke depannya bisa didarati pesawat besar seperti jenis Boeing dengan rute penerbangan antarpulau. Ini kita upayakan pembenahan bandara secara bertahap," kata Sudarsono. (PARNEN/m)