BORNEONEWS, Sampit - Sejak penetapan siaga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada 11 Juli 2016, sudah sekitar sembilan hectare lahan gambut yang terbakar di Kotawaringin Timur, terletak di sembilan lokasi yang rata-rata di wilayah perkotaan.

“Sejak dikeluarkannya SK penetapan siaga Karhutla oleh bapak bupati, sekitar sembilan hektar lahan terbakar. Lokasinya pun ada di wilayah perkotaan yakni Kecamatan Baamang dan Ketapang,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Sutoyo, Senin (8/8/2016).

Menurut Sutoyo, dari pengamatan pihaknya, rata-rata kebakaran tersebut akibat ulah para petani yang membersihkan lahan dengan cara membakar, sehingga apinya menjalar dan membesar. Usai membakar para petani pun tidak mengawasi, mereka langsung meninggalkan lahannya.

Yang dia sayangkan kebakaran ini justru terjadi di wilayah perkotaan, yang seharusnya memberikan contoh kepada masyarakat pedalaman untuk tidak membuka dan membersihkan lahan dengan cara membakar.

“Inilah yang kita waspadai dan sayangkan karena kebakaran terjadi justru di wilayah perkotaan. Seharusnya wilayah perkotaan menjadi contoh bagi wilayah pedalaman, karena kota rata-rata pendidikannya tinggi dan mengerti dampak dari kebakaran hutan dan lahan. Tapi malah kenyataannya diperkotaan yang banyak,” tutur Sutoyo.

Berdasarkan data itu, Sutoyo mengatakan masyarakat di perkotaan terutama para petani dan yang membuka lahan kesadarannya masih minim. Untuk mengatasi itu, diperlukan kerjasama dan partisipasi semua pihak terutama pemerintah kecamatan, kelurahan dan RT/RW untuk membantu menyosialisasikan kepada masyaraklat.

“Intinya masalah ini harus dilakukan secara bersama stakeholder bukan hanya tanggungjawab BPBD, tapi juga seluruh masyarakat,” harapnya.

Data BPBD Kotim menyebutkan sepanjang Juli 2016 kebakaran lahan di kawasan Kota Sampit tercatat sebanyak Sembilan kali.

Kotim yang terdiri 17 kecamatan sangat rawan kebakaran lahan karena sebagian wilayahnya merupakan gambut tebal. Saat kemarau, gambut akan sangat kering sehingga mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api terus membakar hingga beberapa meter ke dalam tanah.

Sedangkan saat musim hujan, gambut yang fungsinya sudah rusak, tidak mampu lagi menyerap dan menyimpan air sehingga banjir makin sering terjadi.

“Meski hujan deras, kami tetap siaga karena sejak tanggal 11 Juli lalu, Kotim sudah siaga darurat bencana asap, walaupun ada hujan. Tahun ini kemaraunya masih ada hujan,” katanya.

Kemarau di kabupaten ini berbeda-beda sehingga tingkat kerawanan kebakaran lahan juga berbeda. Wilayah yang sangat kering diprediksi terjadi di Kecamatan Telawang.

Wilayah lain yang diprediksi kering yakni Kecamatan Antang Kalang, Baamang, Bukit Santuai dan sekitarnya, Kotabesi, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang dan Parenggean. Sedangkan wilayah berpotensi agak kering, meliputi Kecamatan Cempaga Hulu dan Mentaya Hilir Selatan. (RAFIUDIN/m)