BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebagai kepala daerah, gubernur, bupati dan wali kota haruslah berpikir bisnis. Namun bukanlah bisnis pribadi, melainkan bisnis bagi daerah.
Pendapat itu diungkapkan Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran. Ia mencontohkan, Kalimantan Tengah ini melalui Bupati/Wali Kota sudah mengeluarkan izin perusahaan perkebunan seluas 3,5 juta hektar, namun yang sudah ditanami hanya berkisar 1,8 juta hektar.
"Yang sudah ada HGU-nya (Hak Guna Usaha, red) sebesar 999 ribu hektar dan yang sudah ditanami sebesar 900 ribu hektar. Nah, artinya Kalteng mengalami overlap sekitar 2,6 juta hektar," tutur Gubernur Sugianto dalam pertemuan dengan pengurus GAPKI Kalteng di Aula Eka Hapakat, Senin (8/8/2016).
Sisi bisnis yang harus dipandang dari kejadian ini, menurut dia, bukannya membumihanguskan semua kebun yang belum memiliki HGU ini melainkan bagaimana membantu para pengusaha dalam mempermudah pengurusannya.
"Kita tidak mau mereka terus ilegal. Kan kalau mereka ilegal artinya mereka tidak wajib bayar pajak. Justru kalau mereka legal, resmi, kita berhak menarik pajak dari mereka sehingga ada pemasukan untuk daerah," tutur Sugian.
Sisi bisnis ini juga yang harus diperhatikan oleh Bank Kalteng, menurutnya. Bank Kalteng sebagai bank pemerintahan harus mempu menggaet para pengusaha agar menabung dan bertransaksi melalui Bank Kalteng.
"Saya tidak muluk-muluklah, untuk membayar gaji karyawan saja dulu harus melalui Bank Kalteng. Karena sampai saat ini menurut saya Bank Kalteng belum siap menerima uang yang sangat besar sampai triliunan. Tapi saya sudah pasang target untuk Dirut Bank Kalteng bahwa dalam jangka waktu enam bulan Bank Kalteng harus sudah memperbaiki sistem agar mampu menerima berapapun dana dari nasabah," pungkasnya.
Sementara ditanyai usai kegiatan terkait dimana saja lokasi overlap perkebunan ini, Gubernur menyebut hampir di seluruh Kalteng, terutama di bagian barat yang sudah lebih dahulu memiliki perusahaan perkebunan.
"Kalau di daerah tengah seperti Katingan, Gunung Mas, Palangka Raya, Kapuas dan Pulang Pisau masih belum banyak karena perusahaan perkebunannya juga kelihatannya baru menggeliat," tutup Gubernur. (TESTI PRISCILLA/m)








