JAKARTA –
**Borneonews - Istanbul**, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, baru-baru ini menyampaikan kritik tajam terhadap pernyataan yang diungkapkan oleh Kepala Otoritas Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengklaim bahwa serangan udara yang dilakukan oleh Israel di wilayah selatan Lebanon ditujukan semata-mata kepada kelompok Hizbullah. Namun, Albanese menyangkal klaim tersebut dan menegaskan bahwa tindakan tersebut telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil. Dalam sebuah unggahan di platform media sosial *X* pada hari Selasa, Albanese menegaskan, "Seperti halnya warga Palestina, warga Lebanon tahu bahwa Anda berbohong." Pernyataan ini menunjukkan ketidakpercayaan terhadap narasi yang dibangun oleh pihak Israel mengenai sasaran serangannya. Albanese juga mencuatkan isu mengenai moralitas kepemimpinan Israel yang dinilai mengandalkan kekerasan demi mempertahankan kekuasaan dan melanjutkan agenda ekspansi wilayah. Ia berargumen bahwa sejumlah warga Israel mungkin mengalami trauma atau indoktrinasi yang mendalam, sehingga mereka merasa terjebak dalam siklus perang yang tampaknya tidak ada ujungnya. Lebih lanjut, Albanese mempertanyakan mengapa Netanyahu belum dihadapkan pada pengadilan atas tuduhan kejahatan perang. Dalam pandangannya, baik masyarakat Palestina maupun Lebanon berhak untuk bertanya-tanya mengapa pemimpin Israel masih belum dibawa ke Pengadilan Kriminal Internasional yang berlokasi di Den Haag, Belanda. Serangkaian serangan udara yang diluncurkan Israel di daerah selatan dan timur Lebanon telah menimbulkan dampak yang signifikan. Menurut laporan dari pihak otoritas kesehatan Lebanon, sedikitnya 492 orang telah kehilangan nyawa, termasuk 35 anak-anak, sementara 1.645 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut sejak Senin pagi. Kejadian ini juga mengakibatkan ribuan warga sipil terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka. Konflik antara Hizbullah dan Israel kembali meningkat seiring dengan situasi yang memburuk setelah perang yang berlangsung di Gaza, yang telah mengklaim lebih dari 41.400 nyawa, mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak. Serangan ini muncul sebagai respon atas serangan lintas batas yang dilakukan oleh kelompok Palestina, Hamas, pada tanggal 7 Oktober tahun lalu. ANTARA