JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki ambisi untuk meningkatkan jumlah perusahaan farmasi yang masuk dalam kategori maturitas tinggi menjelang tahun 2025. Target mereka adalah menghasilkan sekitar 20 perusahaan farmasi yang tergolong dalam kategori generatif, yang menunjukkan tingkat kematangan yang baik dalam operasional mereka. Menurut Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Rita Endang, saat ini hanya satu perusahaan farmasi yang telah mencapai level tertinggi dari segi maturitas. Rita menekankan bahwa dua faktor utama yang menentukan tinggi rendahnya maturitas perusahaan farmasi adalah kualitas sistem manajemen dan manajemen risiko yang diterapkan. “Badan POM menetapkan target ini sejalan dengan rencana jangka menengah kami, yakni 2025-2029. Kami memiliki indikator yang jelas. Pada tahun 2025, kami berharap 52 persen dari perusahaan yang aktif akan mencapai level generatif, sehingga 20 industri farmasi dapat tercatat sebagai perusahaan dengan tingkat maturitas yang tinggi,” jelas Rita. Sementara itu, Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 46 perusahaan farmasi nasional yang berada di level maturitas keempat, atau yang disebut dengan proaktif. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar industri farmasi di Indonesia saat ini berada pada level maturitas menengah, yang disebut kalkulatif. “Lebih dari 60 persen masih dalam kategori kalkulatif,” tuturnya. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 240 perusahaan farmasi, namun hanya sekitar 160 perusahaan yang aktif beroperasi. Taruna menilai bahwa tingkat maturitas perusahaan farmasi sangat penting, karena menunjukkan kualitas di berbagai aspek industri, termasuk produksi, distribusi, dan penjualan. Meningkatnya maturitas perusahaan farmasi, lanjutnya, dapat memberikan dampak signifikan, seperti penurunan harga obat berkat peningkatan volume produksi. Oleh karena itu, BPOM berkomitmen untuk mendukung upaya peningkatan maturitas perusahaan-perusahaan ini dengan berbagai langkah, antara lain dengan memberikan motivasi dan pendampingan terhadap industri farmasi, memberikan insentif melalui percepatan perizinan, serta membangun reputasi di pasar global agar produk nasional dapat bersaing di berbagai negara. “Kami ingin terlibat secara langsung, bukan hanya berperan sebagai pengawas dari belakang meja. Kami turun ke lapangan untuk memotivasi dan mendampingi semua perusahaan farmasi yang ada, agar jumlahnya semakin bertambah dan dapat memaksimalkan tingkat maturitasnya,” tambah Taruna. ANTARA