JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menegaskan pentingnya bagi orang tua asuh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri *Wolbachia* untuk menjaga ember yang berisi telur dengan baik. Hal ini bertujuan agar telur tersebut dapat menetas dan mendukung pertumbuhan populasi nyamuk sesuai harapan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta, Maryati Kasiman, dalam sebuah seminar yang mengusung tema "Penguatan Implementasi Nyamuk Hebat Ber-Wolbachia melalui Pemberdayaan Masyarakat." Seminar ini diadakan pada hari Selasa dan menjadi momen penting untuk menyebarluaskan informasi mengenai program tersebut. Maryati menjelaskan bahwa orang tua asuh bertanggung jawab untuk menjaga agar jentik-jentik yang diharapkan dapat menetas menjadi nyamuk ber-Wolbachia. Ia mengingatkan bahwa mereka yang menampung telur tersebut harus memahami tugas mereka dengan baik agar proses ini tidak sia-sia. Orang tua asuh (OTA) merupakan individu yang bersedia mengelola telur nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri *Wolbachia*. Dalam penjelasannya, Maryati menyebutkan bahwa tenaga kesehatan yang bertugas di daerah penerapan program tersebut bisa berperan sebagai OTA. Rencananya, mereka akan diberikan informasi mengenai cara pengelolaan telur, termasuk bahwa setelah dua minggu, telur perlu diganti dengan telur baru sebagai bagian dari penyesuaian teknis yang harus dilakukan. Ember yang akan digunakan untuk menampung telur-telur ini berukuran kecil, mirip dengan wadah selai coklat. Penempatan ember-ember ini akan dilakukan oleh kader juru pemantau jentik yang merupakan pihak terdekat dengan masyarakat. Selain itu, ember ini akan diisi dengan air, telur, serta pakan untuk mendukung perkembangan nyamuk yang sehat. Setelah itu, ember akan ditutup dan diletakkan di dalam rumah OTA. Pemasangan ember berisi telur merupakan salah satu langkah dalam rangkaian implementasi pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Di Jakarta, pelaksanaan program ini direncanakan untuk dimulai pada 27 September 2024, dengan lokasi awal di Kembangan Utara, Jakarta Barat. Setiap dua minggu, perkembangan nyamuk di dalam ember yang dijaga oleh OTA akan dipantau. Keberhasilan program ini diukur melalui populasi nyamuk ber-Wolbachia yang mencapai 60 persen dibandingkan dengan populasi nyamuk lainnya. Maryati mengungkapkan bahwa setelah enam bulan, jika populasi nyamuk ber-Wolbachia telah mencapai tingkat yang ditargetkan, maka ember-ember tersebut akan ditarik dan dipindahkan untuk digunakan di wilayah lain. Dengan demikian, upaya ini diharapkan dapat membawa dampak signifikan terhadap pengendalian demam berdarah dengue (DBD) di Jakarta. ANTARA