BORNEONEWS, Sampit - Dinas Pertanian Peternakan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (DP3KP) Kabupaten Kotawaringin Timur menggandeng pengusaha pertanian atau investor luar daerah guna mengembangkan teknologi pertanian di daerah itu.
“Ada dua pengusaha yang kami gandeng yakni pengusaha asal Jawa Timur dan dari Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan,” kata Kepala DP3KP Kotawaringin Timur I Made Dikantara, di ruang kerjanya, Senin (8/8/2016).
Made mengatakan, pengusaha pertanian itu bahkan sudah melakukan demonstrasi alat-alat pertanian modern di Kecamatan Teluk Sampit. Alat-alat yang dimiliki itu diakui mampu mengembangkan pertanian di Kotim serta mempermudah proses bagi petani.
“Mereka memiliki alat yang lebih canggih dari kita. Makanya nanti saya arahkan bagaimana para kelompok tani untuk bekerjasama dengan mereka,” katanya.
Namun kata Made, meski berbagai alat-alat canggih dan modern untuk membantu para petani di daerah ini. namun dia berharap petani tetap memanfaatkan alat pertanian yang dibantu pemerintah daerah selama ini.
Pemerintah menargetkan Kotim menjadi salah satu daerah penghasil beras terbesar di Kalimantan Tengah. Kecamatan Teluk Sampit wilayah yang ditunjuk untuk mengembangkan pertanian padi dan akan menjadi wilayah lumbung beras Kotim.
Tentunya hal itu harus mendapat dukungan dari para petani, bagaimana memanfaatkan potensi daerah dan alat-alat pertanian yang sudah diberikan selama ini.
Meski banyak bantuan alat pertanian yang sudah duiberikan dan hasil pertanian padi melimpah, namun saat ini para petani di daerah itu kesulitan memasarkan hasil pertanian.
“Memang harus kita akui ketika musim panen harga gabah maupun beras anjlok. Makanya kami lagi mencarikan solusi bagaimana untuk penyerapan beras lokal ini di salurkan ke perusahaan-perusahaan swasta yang beroperasi di daerah ini,” katanya.
Ketua Gapoktan di Desa Parebok, Muslih mengaku, saat musim panen melimpah, para petani kesulitan memasarkan beras. Sebab, jika musim panen harga beras di pasaran sangat rendah, tentu ini sangat merugikan petani.
“Kalau lagi turun harganya kisaran Rp8 ribu per kilogram. Ini yang menjadi keluhan kami sebagai petani, kami harap pemerintah daerah bisa membantu memasarkan beras petani ini,” harapnya. (RAFIUDIN/m)








