**Borneonews - Palu**, Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) baru-baru ini melakukan tindakan penting dengan melepaskan ribuan benih rajungan, yang juga dikenal sebagai *crablet*, ke beberapa lokasi di perairan laut Indonesia. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk meningkatkan populasi rajungan jenis *Portunus pelagicus* di habitat alaminya.
Wita Setioko selaku anggota Board of Director (BOD) APRI menjelaskan betapa krusialnya kegiatan *restocking* ini. Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan rajungan hasil penetasan dari telur dalam bertahan hidup di lingkungan alami setelah dilepas.
Dijelaskan lebih lanjut, ukuran *crablet* rajungan yang dilepas bervariasi antara 2 hingga 6 cm. Pada fase ini, rajungan telah memiliki bentuk fisik yang cukup sempurna, ditandai dengan adanya capit serta kaki renang yang fungsional. Dalam proses pelepasliaran, sebanyak 4.900 ekor *crablet* mendapatkan penandaan (tagging) untuk memudahkan pemantauan di perairan yang dipilih.
Kegiatan monitoring yang direncanakan juga bertujuan untuk membedakan antara *crablet* hasil dari pelepasliaran dan yang berasal dari populasi alami. Hal ini penting untuk mengumpulkan data mengenai tingkat kelangsungan hidup *crablet* tersebut dan efektivitas program *restocking* dalam meningkatkan jumlah stok rajungan di alam.
Wita menambahkan bahwa keberlanjutan perikanan rajungan tergantung pada kolaborasi antara berbagai pihak untuk menjaga populasi dan meningkatkan sumber daya perikanan. Dalam jangka panjang, menjaga dan meningkatkan stok rajungan merupakan hal krusial.
APRI mengambil inisiatif untuk melakukan survei di berbagai lokasi di Indonesia, dengan tujuan memantau kondisi stok rajungan secara berkesinambungan. Pendataan ini menjadi dasar yang diperlukan untuk pengelolaan yang lebih baik dalam masa mendatang.
Kegiatan *restocking* rajungan telah dilakukan di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Takalar di Sulawesi Selatan, serta di Lamongan, Pamekasan, dan Situbondo, semuanya terletak di Provinsi Jawa Timur. Wita kembali menekankan perlunya langkah-langkah strategis yang tepat untuk memastikan bahwa *crablet* yang dilepas dapat berdampak positif terhadap kelangsungan hidup populasi rajungan di alam.
Dalam kerjasama ini, pihak APRI juga berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Institute of Marine and Environmental Technology (IMET), serta Smithsonian Environmental Research Center (SERC). Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dari program *restocking* dan pengelolaan stok rajungan di masa depan.
*Crablet* dilepas pada lokasi-lokasi yang memiliki area lamun, dimana diharapkan area tersebut dapat menyediakan perlindungan alami dan nutrisi dari ekosistem lamun untuk meningkatkan kesempatan hidup mereka. Kegiatan *restocking* ini telah dilaksanakan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, dan Situbondo, Jawa Timur, dengan penandaan sebelumnya menggunakan alat khusus untuk memastikan *crablet* yang dilepas dapat diidentifikasi dengan baik.
Pelepasan *crablet* di Situbondo dilaksanakan pada tanggal 29 hingga 31 Agustus 2024, dan diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan stok rajungan di perairan Indonesia.
ANTARA
APRI Lepaskan Ribuan Benih Rajungan untuk Tingkatkan Stok Laut
Bagikan:

PALU –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pembangunan Jembatan Walter Condrad Kotim Ditarget Rampung Desember 2026
Sastra Tutur Dayak Terancam Terpinggirkan, Masyarakat Diajak Lestarikan Bahasa Daerah
Faridawaty Apresiasi Walikota Palangka Raya Terbuka soal Banpres Rp10 Miliar, Dorong Daerah Lain Transparan
Bupati Kotim Tinjau Pembangunan Rumah Anak Korban Perundungan
Pengepul Pertalet di Kapuas yang Diringkus Ditpolairud Polda Kalteng beli BBM Subsidi dengan Harga Rp 470 per Jeriken
Bupati Seruyan Minta Pelajar Hindari Bullying
Komentar (0)
Memuat komentar…







