**Borneonews - Depok**, Eka Budiarto telah mencetak prestasi yang mengesankan di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI) dengan meraih gelar doktor dalam waktu singkat, yaitu 2,5 tahun, dan berhasil mendapatkan predikat *summa cum laude*.
Pencapaian yang luar biasa ini diumumkan pada Sidang Promosi Doktor yang berlangsung di Gedung Pendidikan dan Laboratorium FIK UI. Eka berhasil memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4,0, yang menunjukkan dedikasi dan komitmennya dalam menuntut ilmu.
Latar belakang kehidupan Eka yang sederhana tidak menghalanginya untuk mengejar cita-cita yang tinggi. Lahir di Pekalongan dalam keluarga yang berpendidikan dasar, Eka melakukan upaya maksimal untuk menyelesaikan pendidikan hingga tingkat tertinggi. Setelah menyelesaikan gelar sarjana, ia memiliki aspirasi untuk menjadi dosen dan saat ini mengabdi di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.
Eka mengungkapkan, Kesempatan untuk menjadi dosen memotivasi saya melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Walaupun perjalanan tidaklah mudah, saya selalu percaya bahwa dengan kerja keras, doa, serta dukungan keluarga dan teman, semuanya dapat dicapai. Saya memandang setiap tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Dalam disertasinya, yang berjudul Model Adaptasi Psikososial Keperawatan Jiwa bagi Pelaku Rawat Keluarga (Family Caregiver) terhadap *Self-Efficacy* dan Resiliensi dalam Merawat Pasien Skizofrenia di Wilayah Banjir Rob, Eka berhasil memberikan kontribusi berharga bagi dunia keperawatan.
Di bawah bimbingan Dr. Mustikasari S.Kp, MARS sebagai promotor, dan Sali Rahadi Asih M.Psi, MGPCC, Ph.D, Psikolog, serta Prof. Dr. Besral S.KM., MSc sebagai co-promotor, Eka mengembangkan model yang bertujuan untuk meningkatkan *self-efficacy* serta ketahanan mental bagi keluarga yang merawat pasien skizofrenia di wilayah yang rentan terhadap banjir.
Eka menjelaskan bahwa kondisi kesehatan mental pasien skizofrenia, yang dihimpit oleh masalah banjir rob, membutuhkan perhatian khusus. Dalam penelitian saya, keluarga yang merawat pasien skizofrenia mengalami dua tantangan signifikan; yaitu kesehatan mental pasien serta risiko bencana alam yang terjadi secara periodik, tambahnya.
Model yang dikembangkan mengintegrasikan *Model Adaptasi Roy* dan *Health Promotion Model* dari Pender, berfokus pada peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan caregiver keluarga. Tujuannya agar keluarga dapat lebih percaya diri dalam menjawab tantangan perawatan, menjalin hubungan yang lebih baik di dalam keluarga, serta mengelola dukungan sosial dan spiritual.
Pelatihan yang diberikan kepada keluarga pasien telah terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, yang pada gilirannya memperkuat ketahanan mental dalam menghadapi tantangan besar, yakni skizofrenia dan banjir rob. Saya berharap model ini dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga-keluarga yang merawat pasien di daerah terdampak bencana, kata Eka.
Lebih lanjut, ia berharap temuan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah, terutama Kementerian Kesehatan dan BNPB, dalam merumuskan kebijakan terkait penatalaksanaan keperawatan jiwa dalam situasi bencana. Model adaptasi ini juga dapat digunakan sebagai media edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak banjir rob dan cara penanganannya secara mandiri, tuturnya.
Dekan FIK UI, Agus Setiawan, turut menyatakan rasa bangganya atas pencapaian Eka Budiarto. Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa, tidak hanya membanggakan FIK UI, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, ujarnya.
ANTARA
Eka Budiarto Raih Gelar Doktor dengan Predikat Summa Cum Laude
Bagikan:

BOGOR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ini 2 Lokasi Depot Air Gratis di MB Ketapang Sampit
Oli Berceceran di Bundaran Besar Jalan Pemuda Kapuas
Anak Beruang Madu yang Terpisah dari Induknya Diselamatkan Warga Seruyan
Meski Awal Musim Hujan di Kapuas Diprediksi November, El Nino Berpotensi Kurangi Intensitas Hujan hingga 2027
Induk Orangutan Terluka Tetap Jaga Anaknya di Tengah Kepungan Karhutla Desa Kandan Kotim
664 Hektare Eks Konsesi PWN di Lamandau Terbakar
Komentar (0)
Memuat komentar…







