JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memberikan anugerah prestisius dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024. Penghargaan ini diberikan kepada lima individu dan kelompok yang berjasa sebagai penggerak budaya dalam kategori Pelopor dan/atau Pembaru. Kelima penerima penghargaan tersebut adalah Ainar Tri Asita, Laura Tias Avionita Sinaga, Lisabona Rahman, Mulyani, serta Papermoon Puppet Theatre. Masing-masing dari mereka telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan budaya Indonesia melalui karya seni mereka. Ainar Tri Asita dikenal sebagai seorang koreografer muda yang berbakat. Dia pernah menunjukkan kemampuannya sebagai penari termuda di acara Solo Dance Festival yang diadakan di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Selain berfokus pada koreografi, Ainar juga terlibat dalam kegiatan pengarsipan dan riset budaya. Banyak karya seninya yang terinspirasi oleh hasil riset yang kemudian dipamerkan di Palu, Sulawesi Tengah, yang merupakan kota kelahirannya. Ainar menyatakan, "Apresiasi penghargaan dari Kemendikbudristek ini memicu saya agar terus berkarya di bidang seni dengan lebih baik lagi untuk masa depan kebudayaan Indonesia. Perjalanan menciptakan karya seni terbaik lainnya untuk Indonesia masih amat panjang." Laura Tias Avionita Sinaga, yang juga seorang penyandang disabilitas, telah berhasil memadukan seni tari tradisional Simalungun dari Sumatera Utara dengan elemen modern. Dedikasinya terhadap seni tari tidak diragukan. Laura mengungkapkan, "Saya memang sudah suka menari sejak masih kecil, apalagi tarian Simalungun. Oleh sebab itu, saya benar-benar ingin memantapkan pilihan untuk mengembangkan seni tari dan bagaimana menyelaraskannya dengan budaya Simalungun." Pada tahun 2014, ia mendirikan sanggar tari bernama Simalungun Home Dancer (SIHODA) untuk melestarikan dan mempresentasikan budaya Simalungun di berbagai festival baik yang di dalam maupun luar negeri. Lisabona Rahman juga tak kalah berkontribusi, terutama dalam dunia perfilman Indonesia. Ia fokus mengarsipkan dan merestorasi dokumen film nasional, sehingga meningkatkan kesadaran akan pentingnya penyimpanan dan pelestarian karya-karya film. Lisabona pernah diundang sebagai pembicara di beberapa universitas ternama di luar negeri, termasuk Goethe University di Frankfurt dan Johannes Gutenberg University di Mainz, serta Jos University di Nigeria. Ia menegaskan, "Sudah seharusnya dokumen film Indonesia tersimpan dengan baik dan dijaga untuk pengetahuan masa depan." Mulyani, seorang inisiator sanggar tari Ngesti Laras yang didirikan pada tahun 1992, menunjukkan kecintaannya yang mendalam terhadap seni tari. Saat ini, ia menjabat sebagai ketua sanggar tersebut. Selain berkiprah sebagai seniman tari, Mulyani juga menciptakan berbagai kerajinan tangan yang membantu mendukung pertunjukan tari. Ia aktif menggali dan memperkenalkan alat musik bundengan serta topeng lengger melalui berbagai workshop dan pementasan. Mulyani juga memiliki kepedulian besar terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, dengan melatih mereka untuk dapat menampilkan tari meskipun dalam keterbatasan komunikasi. Terakhir, Papermoon Puppet Theatre, sebuah teater boneka yang didirikan pada April 2006 di Yogyakarta, telah berhasil menyajikan karya seni yang menarik bagi semua kalangan. Teater ini dikenal mampu mengangkat isu-isu sosial dalam pertunjukannya yang dikemas secara imajinatif. Sejak tahun 2008, Papermoon telah menggelar pesta boneka internasional di Yogyakarta dan berhasil menyelenggarakan sekitar 20 pertunjukan serta 15 pameran karya instalasi seni visual di berbagai negara. Papermoon Puppet Theatre menonjol sebagai pelopor dalam media baru untuk cerita anak, dengan menyajikan nilai-nilai kearifan lokal dalam tampilan artistik yang menawan. ANTARA