**Borneonews - Jakarta**, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan memperoleh status sebagai *WHO-Listed Authority* pada tahun 2025. Hal ini diungkapkan dalam sebuah pernyataan di Jakarta.
Status tersebut akan mengangkat posisi BPOM sejajar dengan lembaga-lembaga bergengsi lainnya, seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat dan lembaga sejenisnya di Jepang. Dengan terdaftarnya BPOM dalam daftar ini, proses ekspor produk asal Indonesia akan menjadi lebih mudah dan cepat.
Cukup dengan menyerahkan dokumen, semua sudah bisa dilakukan, kata Kepala BPOM, Ikrar Nusa Bhakti, pada hari Selasa. Pengakuan atas dokumen-dokumen tersebut diharapkan dapat meningkatkan volume ekspor produk Indonesia ke pasar global.
Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah melakukan verifikasi terhadap kualifikasi BPOM. Sebuah tim dari WHO direncanakan akan datang ke Indonesia pada bulan November untuk melaksanakan penilaian langsung di lokasi.
Ikrar menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan bagi WHO, seperti kinerja nasional BPOM, prosedur pendaftaran, promosi praktik pembuatan yang baik, serta pengakuan dari lembaga lain.
Indonesia sendiri telah menjadi anggota dari Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme (PIC/S), yang merupakan jaringan global dari otoritas regulator. Keanggotaan ini mencerminkan kematangan industri farmasi di Tanah Air, ujar Ikrar lebih lanjut.
Pengakuan di tingkat global ini akan memberikan keuntungan bagi Indonesia dengan meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya saat mengekspor produk. Efek positif lainnya dari kematangan industri farmasi adalah kualitas produksi, distribusi, dan penjualan yang lebih baik. Selain itu, industri yang matang diharapkan dapat menurunkan harga obat-obatan berkat peningkatan kapasitas produksi.
BPOM berkomitmen untuk mencapainya dengan memberikan dukungan kepada perusahaan, memberikan insentif, dan menciptakan kesempatan ekspor, tambah Ikrar.
Dalam kesempatan yang sama, Rita Endang, seorang wakil dari BPOM, menekankan faktor kunci yang harus diperhatikan untuk mencapai tingkat kematangan yang tinggi.
Faktor-faktor tersebut meliputi sistem manajemen kualitas (QMS) dan manajemen risiko kualitas, ungkapnya.
ANTARA
BPOM Optimis Jadi WHO-Listed Authority pada 2025 untuk Tingkatkan Ekspor
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Komentar (0)
Memuat komentar…







