PONTIANAK –
**Borneonews - Pontianak**, Sektor pertambangan diyakini akan menjadi penggerak utama perekonomian Kalimantan Barat, terutama setelah peluncuran bauksit perdana untuk *Smelter Grade Alumina Refinery* oleh Presiden Joko Widodo di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Penjabat Gubernur Kalbar, Harisson, menyampaikan keyakinannya bahwa dengan adanya komitmen dan perhatian yang serius terhadap pengembangan proyek pertambangan, pertumbuhan ekonomi daerah ini akan semakin meningkat di masa mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan saat mendampingi Presiden Jokowi pada peresmian *Smelter Grade Alumina Refinery* yang berlokasi di Kabupaten Mempawah. Harisson menekankan pentingnya hilirisasi industri yang harus terus didorong, sejalan dengan kebijakan yang diusung oleh Presiden Jokowi. Ia menuturkan, "Kita tidak seharusnya hanya mengeksplorasi sumber daya alam (SDA) dan menjualnya ke negara lain dengan harga yang rendah. Hilirisasi SDA harus dilakukan agar produk tersebut dapat dijual dengan nilai yang lebih tinggi." Lebih lanjut, Harisson sejalan dengan pendapat Presiden Jokowi yang menargetkan pengurangan ekspor bahan mentah. Menurutnya, kebijakan ini akan berpotensi menekan impor bahan baku produksi, seperti aluminium, yang selama ini menyedot devisa, padahal Indonesia memiliki pasokan bahan bakunya sendiri. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang berkomitmen untuk meningkatkan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Barat. Aluminium oksida atau *alumina* sendiri merupakan senyawa kimia yang terdiri dari aluminium dan oksida, dan ia memiliki ragam aplikasi dalam industri metalurgi, kimia, otomotif, serta kosmetik. Proyek ini diharapkan dapat mencapai tahap *Commercial Operation Date* (COD) pada Februari 2025. Sementara itu, pengolahan bauksit untuk menjadi alumina direncanakan dapat dimulai pada kuartal IV tahun 2024. Proses transformasi bauksit menjadi alumina memerlukan waktu sekitar 45 hari dengan metode *Bayer*, serta memiliki kapasitas produksi yang direncanakan sebesar 1 juta ton alumina per tahun. Untuk menunjang operasi pabrik ini yang berdiri di lahan seluas 246 hektar, dibutuhkan bahan baku bauksit sebanyak 3,3 juta ton setiap tahunnya. Investasi yang diperlukan untuk menjalankan proyek ini mencapai sekitar USD 1,7 miliar dan akan dilaksanakan dalam dua fase. ANTARA