**Borneonews - Jakarta**, Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menyatakan bahwa keanggotaan Indonesia dalam dua organisasi internasional, yaitu OECD dan BRICS, akan membawa banyak keuntungan bagi negara. Menurutnya, menjadi anggota dari kedua organisasi ini memberikan Indonesia beberapa opsi strategis dan alternatif, terutama untuk tidak terjebak dalam dominasi salah satu kekuatan global.
Hikmahanto menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk mempertimbangkan tidak hanya aspek ideologi, tetapi juga dimensi ekonomi dalam mengambil keputusan untuk bergabung dengan organisasi-organisasi internasional. Ia menjelaskan, "Sangat penting bagi pemerintah untuk melakukan penilaian yang cermat terkait keanggotaanBRICS, yang dalam prosesnya dapat berjalan bersamaan dengan rencana untuk bergabung dengan OECD."
Dalam seminar internasional yang bertajuk "Indonesia-Rusia: Dari Masa Lalu ke Masa Depan, Perspektif Historis dan Geopolitik", yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Hikmahanto menyampaikan pandangannya dengan mendalam. Ia menggarisbawahi bahwa bergabung dengan BRICS tidak hanya memberikan keuntungan pragmatis tetapi juga memperkuat keberadaan Indonesia di kancah diplomasi internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Peneliti Klub Diskusi Valdai dari Rusia, Fyodor Lukyanov, memberikan penjelasan bahwa BRICS lebih representatif sebagai lingkungan yang berkembang ketimbang sekadar sebuah organisasi formal. Ia berpendapat bahwa keberadaan BRICS merupakan bentuk respons terhadap hegemoni keuangan Amerika Serikat, dengan tujuan menciptakan alternatif dalam sistem keuangan global.
Pencapaian utama BRICS adalah membangun cara agar negara-negara anggotanya dapat bersaing dengan kekuatan Barat tanpa harus melawan langsung, ungkap Lukyanov. Ia menambahkan bahwa apabila Indonesia memutuskan untuk bergabung, hal tersebut akan menghadirkan keuntungan yang signifikan bagi negara.
Wakil Ketua dan Presiden Pusat Shanghai untuk Studi Strategi RimPac dan Hubungan Internasional, Nelson Wong, juga ikut serta dalam diskusi tersebut. Ia menyampaikan bahwa munculnya BRICS berakar dari ketidakpuasan sejumlah negara terhadap tatanan dunia yang ada saat ini. Wong menyoroti bahwa kehadiran organisasi-organisasi seperti BRICS dan SCO muncul sebagai reaksi terhadap rasa tidak adil yang dialami banyak negara akibat manipulasi dolar AS dalam sistem pembayaran internasional.
Lebih lanjut, Wong menginformasikan bahwa BRICS berencana untuk mengumumkan suatu mekanisme pembayaran internasional yang baru pada bulan Oktober mendatang. Ia meyakini bahwa hal ini dapat mendisrupsi sistem pembayaran yang berlaku saat ini, yang dinilai sudah tidak efektif bagi banyak negara.
BRICS sendiri didirikan pada tahun 2009, dengan anggota awal yaitu Brasil, Rusia, India, dan China, kemudian diikuti oleh Afrika Selatan yang bergabung pada tahun 2011. Meskipun beberapa negara baru bersiap untuk bergabung pada Desember 2023, kelompok ini memutuskan untuk mempertahankan nama BRICS sebagai identitas organisasi.
ANTARA
Keuntungan Indonesia Bergabung dengan OECD dan BRICS untuk Ekonomi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Veda Ega Jadi Pembalap Indonesia Pertama yang Raih Pole Position
Varrel/Wardana Terhenti di Semifinal Indonesia Masters
SKK Migas Umumkan Pengurangan Ekspor Gas ke Singapura
Hangtuah Kalahkan Satya Wacana 62-58 di IBL All Indonesian
Tim Boccia Indonesia Bertekad Jaga Performa hingga Paralimpiade
Bupati Kotim Prihatin Kebun Warga Terbakar dan Terancam Kehilangan Penghasilan
Komentar (0)
Memuat komentar…







