JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, baru-baru ini mendorong pihak swasta untuk mengambil peran yang lebih signifikan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Hal ini disampaikan dalam sebuah pertemuan di Jakarta. Rosan menegaskan bahwa tantangan ekonomi yang akan dihadapi oleh Indonesia di masa depan diperkirakan akan semakin besar. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah dan sektor swasta untuk mengeksplorasi berbagai peluang yang ada. "Dunia swasta harus berperan lebih aktif dan lebih penting ketimbang pemerintah yang hanya bertindak sebagai regulator. Peran ini harus dioptimalkan," ujarnya menekankan pentingnya kolaborasi ini. Sebagai mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki modal yang kuat yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain, seperti stabilitas dan kedamaian. Kedua faktor ini krusial untuk memastikan perekonomian Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan. Dia juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, serta wilayah yang luas dan subur, yang merupakan aset berharga. Rosan meyakini bahwa potensi kekayaan yang dimiliki bangsa ini harus dikelola dengan efektif dan optimal. "Saya optimis bahwa meskipun di tengah tantangan geopolitik dan geo-ekonomi yang semakin kompleks, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus menunjukkan kemajuan yang baik secara *gradually*," ungkapnya. Lebih jauh, Rosan menceritakan pertemuannya dengan Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, beberapa waktu yang lalu. Dalam pertemuan tersebut, PM Wong menyatakan optimisme yang tinggi terhadap kemampuan Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar delapan persen. Rosan mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut dapat menjadi pendorong moril bagi Indonesia untuk terus berjuang menuju cita-cita menjadi negara maju. "Perdana Menteri Singapura mengatakan kepada saya, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak mencapai pertumbuhan hingga delapan persen," kata Rosan menggambarkan keyakinan tersebut. ANTARA