MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Ekonom dari Universitas Mataram, Diswandi, mengungkapkan bahwa keberadaan fasilitas pengolahan tembaga dan logam mulia PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, diyakini akan memperkuat sektor industri pengolahan di daerah tersebut. Menurut Diswandi, secara analisis ekonomi konvensional, smelter ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) yang berasal dari sektor pertambangan. Ia menyatakan, dengan adanya smelter, pengolahan tembaga yang sebelumnya dilakukan di luar negeri kini dapat dilaksanakan secara langsung di lokasi tambang. Hal ini tentu akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Lebih jauh, Diswandi menjelaskan bahwa keberadaan smelter juga membuka peluang untuk variasi produk yang dapat diekspor, sehingga Nusa Tenggara Barat tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Dia mencatat bahwa meskipun smelter menghadirkan keuntungan ekonomi, penting untuk memastikan bahwa manfaat tersebut tidak hanya dinikmati oleh pemegang saham, tetapi juga oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi smelter. Dalam konteks ini, Diswandi menekankan perlunya PT Amman Mineral untuk lebih meningkatkan tanggung jawab sosial perusahaan atau *corporate social responsibility*. Ini termasuk menciptakan peluang kerja bagi penduduk lokal dan mendukung pendidikan masyarakat di sekitarnya, seiring dengan meningkatnya pendapatan perusahaan. Data dari Badan Pusat Statistik pada Agustus 2024 menunjukkan bahwa ekspor dari Nusa Tenggara Barat banyak didominasi oleh komoditas tambang, mencatatkan nilai mencapai 443,53 juta dolar AS, yang setara dengan 98,74 persen dari total nilai ekspor. Pengiriman mineral tersebut dilakukan ke beberapa negara, termasuk China, Korea Selatan, dan Jepang, melalui Pelabuhan Benete yang terletak di Sumbawa Barat. Di sisi lain, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nusa Tenggara Barat mencatat bahwa kontribusi sektor industri pengolahan pada tahun 2023 mencapai 3,86 persen. Dalam rangka memajukan sektor ini, Bappeda telah menetapkan target pertumbuhan PDRB untuk industri pengolahan, yakni 7,66 persen pada tahun 2025, meningkat menjadi 14,44 persen pada tahun 2034, dan mencapai 21,27 persen pada tahun 2045. ANTARA