BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi di Jalan Jilik Riwut II, Gang Jati, RT 19, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Senin (8/7/2016).

Api yang diketahui pertama kali mulai berkobar pada pukul 08,00 pagi dari arah hutan jalan Samari itu dengan cepat merembet perkebunan sawit dan karet milik warga dan terus meluas hingga ke gang Jati jalan Jilik Riwut II. 

Menurut Darno, warga sekitar, awalnya ia hanya melihat asap mengepul dari kejauhan. Karena hembusan angin dan lahan sekitar merupakan padang ilalang kering membuat api dengan cepat merembet tidak terkontrol. Sementara itu sejak pagi tidak ada yang berusaha memadamkan api dan ia memperkirakan, luas lahan yang terbakar kurang lebih sekitar 10 hektar.  

"Sejak pagi kebakarannya. Awalnya jauh sekali tapi lama kelamaan meluas dan sampai ke sini," papar Darno, di lokasi kebakaran, Senin (8/8/2016).

Sementara itu, satu unit pemadam kebakaran Pemkab Kobar dengan lima personil yang datang ke lokasi kebakaran segera memadamkan api. Luasnya titik kebakaran menyulitkan proses pemadaman, namun untuk tidak meluasnya kebakaran yang terjadi petugas melokalisir dengan menyisir bagian pinggir yang terbakar.

Karhutla Di Kobar Capai Lebih 100 Hektar

Data BPBD Kabupaten Kotawaringin Barat luasan lahan dan hutan yang terbakar yang sudah berhasil ditangani tim terpadu mencakup empat Kecamatan, seperti Arut Selatan, Arut Utara, Kumai dan Kotawaringin Lama mencapai lebih dari 100 hektar. 

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Hermon F Lion, luasan tersebut terdiri dari lahan kosong serta perkebunan sawit dan karet milik masyarakat. Sementara penyebab karhutla masih didominasi oleh faktor kesengajaan. Namun faktor alam juga tidak bisa dikesampingkan.

"Ada 20 lebih hotspot dengan luasan lahan yang terbakar mencapai lebih dari 100 hektar, titik ini tersebar tetapi masih dalam satu wilayah," beber Hermon F. Lion, Senin (8/8/2016).

Terkait kabut asap yang menyelimuti kota Pangkalan Bun sejak beberapa hari ini, ia menjelaskan pada prinsipnya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sebagian besar berada di kawasan gambut. Walaupun api sudah dapat ditangani oleh tim terpadu yang melibatkat TNI-Polri, BPBD dan Manggala Agni dari BKSDA SKW II Pangkalan Bun, namun asap tebal masih keluar dari bekas kebakaran. 

"Kalau kebakaran di gambut walau pun sedikit tetapi mengeluarkan asap tebal. Jadi harus ada penanganan yang maksimal dan tuntas bila kebakaran di lahan gambut terjadi," kata Hermon.

Dihubungi terpisah, Koordinator Karhutla, Dandim 1014/PBN, Letkol Inf Wisnu Kurniawan, mengatakan penanganan kebakaran hutan dan lahan sejak Maret hingga Agustus 2016 seluas lebih dari 100 hektar. Ia mengakui bahwa akibat karhutla sudah muncul kabut asap beberapa hari ini

Senada dengan BPBD, Dandim 1014/PBN mengatakan bahwa lokasi kebakaran yang merupakan lahan gambut walaupun sudah padam tetapi tetap mengeluarkan asap tebal. Ia memperkirakan bahwa kabut tersebut muncul karena hal itu.

Lanjut dia, dalam penanganan Karhutla tim terpadu mengalami kendala keterbatasan sarana dan prasarana serta jauhnya titik api, sehingga untuk alat yang tepat saat proses pemadaman yang jauh dari akses jalan adalah mesin damkar portable. Selain itu keterbatasan anggaran juga menjadi kendala, untuk transportasi dan konsumsi tim terpadu mengeluarkan dari dana swadaya. Untuk itu ia meminta kepada pemerintah daerah untuk membantu anggaran penanganan Karhutla.

Terkait dengan pelaku pembakaran hutan dan lahan yang hingga saat ini belum ada status tersangka, ia mengatakan, untuk menetapkan status tersangka kepada pelaku tentu saja kepolisian harus berdasarkan hasil penyidikan apakah mereka ini bersalah atau tidak. Dan Kodim 1014/PBN terbatas membantu pihak Polres melakukan penangkapan terhadap orang yang diduga melakukan pembakaran. 

"Setelah itu kami serahkan ke Polres untuk menindaklanjuti, kewenangannya ada di Polres," tegas Dandim.

Dandim juga menyoroti kebakaran yang terjadi di Bungur, Kelurahan Baru, Kecamatan Arsel, sejak jumat lalu, kebakaran yang meluas hingga ke tepi hutan ini berawal dari perkebunan sawit milik, distributor elektronik besar di Pangakalan Bun (E). Walau sudah berhasil dipadamkan, namun lahan yang berupa gambut tersebut masih mengeluarkan asap. Dan ia memperkirakan asap kebakaran di Bungur dan Jalan Kolam tersebut lah yang menyebabkan munculnya kabut asap beberapa hari ini. (KOKO SULISTYO/m)