JAKARTA –
**Borneonews - Seoul**, Kantor Kepresidenan Korea Selatan baru-baru ini mengungkapkan bahwa negara tersebut merasakan dampak yang cukup terbatas dari ketegangan yang terjadi di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional. Meskipun situasi ini belum memberikan pengaruh signifikan, pemerintah Korea Selatan akan terus memantau dengan seksama dan bersiap untuk mengambil langkah-langkah proaktif jika memang diperlukan. Dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh Penasehat Keamanan Nasional, Shin Won-sik, bersama Kepala Staf Presiden untuk Kebijakan, Sung Tae-yoon, sejumlah pejabat senior pemerintah melakukan evaluasi mendalam terkait dampak dari eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Pertemuan ini bertujuan untuk menilai implikasi terhadap ekonomi dan keamanan dalam negeri. Para peserta pertemuan melaporkan bahwa krisis yang sedang berlangsung saat ini belum berpengaruh besar terhadap pasar finansial domestik. Selain itu, pasokan minyak mentah, gas, dan logistik maritim juga tetap aman. Meskipun begitu, mereka sepakat untuk terus memantau perkembangan dan bersiap melakukan intervensi jika diperlukan. Selain itu, pembahasan dalam pertemuan tersebut juga mencakup keamanan warga negara Korea, perusahaan, serta fasilitas militer dan kedutaan yang berada di sana. Diskusi juga mencakup opsi untuk solusi diplomatik yang potensial serta perencanaan evakuasi sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan keadaan darurat. Di sisi lain, militer Israel baru saja meluncurkan serangan udara terhadap posisi Hezbollah di Lebanon pada hari Senin, 23 September. Serangan tersebut, menurut laporan dari otoritas Lebanon, telah mengakibatkan kehilangan nyawa mencapai 492 orang dan membuat puluhan ribu lainnya terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan diri, menjadikannya sebagai hari paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir. Sejak dimulainya konflik yang lebih luas antara Israel dan Hamas, yang dimulai pada 7 Oktober tahun lalu, bentrokan antara Hezbollah dan Israel semakin meningkat. Dalam periode tersebut, lebih dari 41.400 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dilaporkan telah kehilangan nyawa. Setelah serangan lintas batas yang dilancarkan oleh kelompok Palestina, Israel telah mengintensifkan serangannya di Lebanon sambil mengabaikan peringatan dari masyarakat internasional mengenai risiko penyebaran konflik yang lebih luas di wilayah ini. ANTARA