SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Universitas Surabaya (Ubaya) telah melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pemandu wisata gunung melalui penggunaan teknologi *Virtual Reality* (VR). Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan pelatihan yang efisien serta aman bagi para pemandu dalam menghadapi situasi berbahaya di medan pegunungan. Ketua Tim PKM Ubaya, Prof. Joniarto Parung, menjelaskan bahwa penerapan VR dalam pelatihan ini menawarkan keuntungan signifikan. Dengan teknologi ini, para peserta dapat berlatih dalam kondisi simulasi tanpa risiko yang mengancam keselamatan mereka. Keberadaan VR juga memberikan fleksibilitas dalam mengakses materi pelatihan kapan saja sesuai kebutuhan. Adapun program ini didanai oleh Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Melalui program ini, Ubaya berupaya meningkatkan keahlian pemandu gunung dalam menangani kecelakaan yang mungkin terjadi di jalur pendakian. Joniarto menekankan pentingnya pemandu gunung untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama, mengingat mereka sering menjadi orang terdekat dengan korban ketika insiden terjadi. Metode yang diterapkan dalam pelatihan ini berlandaskan pendekatan kualitatif, diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan keterampilan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang diperlukan oleh para pemandu. Selain simulasi kecelakaan di pegunungan, pembuatan VR ini juga melibatkan manipulasi video yang lebih menarik bagi para peserta. Prof. Joniarto juga menuturkan bahwa materi pelatihan VR diintegrasikan ke dalam perangkat Oculus, yang mana diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan mendalam. Dengan demikian, hasil luaran dari program ini adalah meningkatnya keterampilan pemandu wisata gunung dalam hal P3K, yang diharapkan dapat mengurangi risiko fatal bagi para pendaki yang terlibat dalam kecelakaan di alam bebas. Pelatihan dan evaluasi menunjukkan bahwa penggunaan VR terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi pemandu dalam menangani situasi darurat. Di samping itu, metode ini juga menawarkan solusi berkelanjutan bagi para pemandu dalam melaksanakan pelatihan yang dapat diulang, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu. Berdasarkan informasi dari Koperasi Masyarakat Desa Hutan (KMDH) Watu Kelir di Desa Tamiajeng, Trawas, Kabupaten Mojokerto, diketahui bahwa dalam satu tahun terakhir, jumlah pendaki yang mengunjungi Gunung Penanggungan mencapai angka 5.000 orang per bulan. Data tersebut juga mencatat bahwa kecelakaan yang paling sering terjadi selama kegiatan mendaki meliputi hipotermia, cedera terkilir, patah tulang, kedinginan, kekurangan oksigen, dan keracunan. Upaya pelatihan ini diharapkan dapat meminimalisasi kejadian serupa di masa mendatang. ANTARA