BORNEONEWS, Palangka Raya - Keterangan Christina,  terduga pelaku penganiayaan dua pembantu rumah tangga di Kota Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, tidak meyakinkan. Sejumlah pihak, termasuk di media sosial, menilai yang disampaikan pemilik Klinik Bersalin Christina itu dalam jumpa pers, di Polda Kalimantan Tengah, Sabtu (6/8/2016), hanya skenario. Kredibilitas Polda Kalteng dipertaruhkan dalam kasus ini.

Mantan anggota Komisi III DPR RI, Alfridel Jinu menilai, yang disampaikan Christina sebagai alasannya menganiaya dua PRT kurang meyakinkan. Tokoh masyarakat Kalteng ini pun mengkritisi adanya aroma tebang pilih dalam penegakan hukum. "Hukum jangan tajam bagi non keluarga Polri saja. Keterangan pelaku tidak meyakinkan publik. Publik bisa minta Kapolri turun tangan dalam kasus itu," kata dia, Senin (8/8/2016).

Komentar sama pedas disampaikan netizen di media sosial facebook dari link berita di laman Borneonews yang dibagikan. Rata-rata tidak mempercayai pernyataan Christina dan mengkritik langkah Kapolres Barito Utara.

"Sangat tidak masuk akal sekali penjelasan si majikan.... mengada-ada kesannya. Masa dua2nya pembantu doyan anak bayi... bayiiii lhooooo.....," tulis akun Vironika Bahat.

"Institusi polri khususnya anggota penyidik pasti paham laporan jenis/model apa dpakai sbgai bahan acuan utk proses kedua belah pihak apabila kedua belah pihak sama2 tdk ada yg melaporkan kasus mslh pencabulan maupun penganiayaannya," kata pengguna akun Oka Tuwan. (RONI SAHALA/N).