JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Para ahli kesehatan, termasuk Prof. Tjandra Yoga Aditama yang pernah menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular untuk Kantor Regional Asia Tenggara pada 2018 hingga 2020, menegaskan pentingnya penerapan kebijakan dengan fokus pada kesehatan oleh pemerintah DKI Jakarta. Mereka menyerukan berbagai langkah yang dapat mengurangi polusi udara yang semakin memprihatinkan. Prof. Tjandra mengungkapkan, meski pembangunan merupakan elemen krusial untuk kemajuan bangsa, aspek kesehatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap proyek pembangunan. Ia menekankan bahwa pembangunan harus direncanakan dengan seksama agar tidak menghasilkan polusi udara yang berdampak negatif bagi kesehatan. Ia juga mengingatkan bahwa konsep pembangunan yang berwawasan kesehatan bukanlah hal baru, karena sebelumnya telah diperkenalkan oleh Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie. Tjandra berpendapat bahwa demi terciptanya udara yang bersih dan sehat untuk masyarakat, pemerintah DKI Jakarta harus melakukan upaya pengendalian terhadap polusi udara, mengidentifikasi faktor penyebabnya, serta mengutamakan penanganan yang tepat. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kompleksitas penyebab polusi yang saling terhubung dengan berbagai kebijakan lainnya. Meski begitu, dia berujar bahwa tindakan nyata perlu segera dilaksanakan untuk mengatasi masalah ini. Tjandra yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana di Universitas YARSI mengharapkan agar pemerintah menunjukkan komitmen dengan menegakkan berbagai peraturan terkait pencemaran udara, baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan, termasuk masalah secara langsung seperti asap rokok pasif. Selain itu, ia menyarankan perlunya penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) yang lebih banyak, yang tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota tetapi juga sebagai area bagi masyarakat untuk beraktivitas fisik sambil menikmati udara yang segar dan sehat. Prof. Tjandra menekankan pentingnya menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan paru-paru secara langsung, serta tindakan *promotif* dan *preventif* untuk kesehatan paru-paru. Ia juga menggarisbawahi keperluan akan fasilitas deteksi dan diagnosis dini bagi gangguan paru-paru, termasuk tempat bagi pemeriksaan fungsi paru. Ia juga menyarankan adanya fasilitas untuk perawatan dan pengobatan penyakit paru dengan sarana dan prasarana yang memadai bagi yang membutuhkan. Selaras dengan hal ini, Tjandra menekankan pentingnya perhatian terhadap proses pendidikan dokter spesialis paru serta tenaga kesehatan paru lainnya yang akan memberikan layanan dari tingkat primer hingga rujukan tertinggi. Di tengah berbagai tantangan yang ada, ia berharap pemerintah baru dapat mengutamakan upaya untuk memberikan bagi masyarakat akses terhadap udara yang bersih dan sehat. ANTARA