JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan pada perdagangan yang berlangsung pada hari Rabu. Kenaikan ini terjadi setelah dipublikasikannya data mengenai *Indeks Manufaktur Richmond* di AS yang hasilnya tidak memenuhi ekspektasi pasar. Pada sesi perdagangan pagi tersebut, rupiah tercatat meningkat sebesar 80 poin atau setara dengan 0,53 persen, yang menjadikannya diperdagangkan di level Rp15.107 per dolar AS, beranjak dari posisi sebelumnya di Rp15.187 per dolar AS. Analis mata uang, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan nilai rupiah ini merupakan respons terhadap pelemahan dolar AS setelah keluarnya laporan dari *Richmond Fed* yang menunjukkan angka *Indeks Manufaktur* sebesar -21. Lukman menambahkan bahwa angka ini lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan awal yang mencapai -17. Faktor lain yang turut memengaruhi penguatan rupiah adalah adanya sentimen pasar terhadap pemangkasan suku bunga yang dilakukan oleh bank sentral AS, atau yang dikenal dengan nama *The Fed*, sebesar 50 basis poin (bps) pada minggu lalu. Pemotongan suku bunga ini terus memberikan tekanan bagi dolar AS. Di sisi lain, para investor saat ini sedang menunggu arahan dari pidato para pejabat *The Fed*, termasuk Ketua *The Fed* Jerome Powell, yang dijadwalkan berlangsung besok. Pidato ini diharapkan khususnya membahas arah kebijakan suku bunga yang akan diterapkan di masa mendatang. Lukman memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang antara Rp15.075 hingga Rp15.200 per dolar AS. Hal ini menunjukkan adanya harapan yang optimis terhadap stabilitas dan penguatan rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. ANTARA