MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Krisis penyediaan air bersih di Nusa Tenggara Barat (NTB) diperkirakan masih akan berlanjut hingga Desember 2024. Fenomena ini disebabkan oleh dampak panjang dari musim kemarau yang sedang melanda sejumlah daerah di provinsi tersebut. Ahmadi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, menyatakan di Mataram pada hari Rabu bahwa ketersediaan air minum dan air bersih masih mengalami kekurangan yang signifikan. Meskipun hujan telah mulai terjadi di akhir September, beberapa wilayah, terutama di bagian selatan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, tetap menghadapi masalah serius dalam hal pasokan air. "Curah hujan yang tinggi tidak menjamin bahwa air akan segera mengalir ke permukaan, terutama di daerah-daerah ini. Air membutuhkan waktu untuk meresap," tambahnya menjelaskan. Data dari BPBD NTB menunjukkan bahwa lebih dari 500 ribu penduduk terdampak kekeringan, yang tersebar di 77 kecamatan. Dari sepuluh kabupaten kota yang ada, sembilan di antaranya telah menyatakan status siaga darurat akibat kekeringan. Krisis air bersih ini tidak hanya memengaruhi pasokan air minum, tetapi juga berdampak pada sekitar 10 hektar lahan pertanian yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan. "Saat ini, kita berada pada puncak musim kering," ungkap Ahmadi. BPBD NTB terus bekerja untuk mengatasi masalah kurangnya air bersih dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan. Mereka juga membangun sumur-sumur bor di berbagai lokasi. Sumur-sumur ini didanai oleh bantuan pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk rencana modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan. Namun, Ahmadi mencatat bahwa di wilayah Lombok selatan, pembangunan sumur bor menghadapi kendala karena tidak terdapat cekungan air tanah yang cukup. "Oleh karena itu, kami lebih fokus pada distribusi air bersih, karena tidak mungkin melakukannya di sana," ujarnya. Pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran untuk memenuhi kebutuhan air bersih serta operasional distribusi. BPBD NTB menerima dukungan dana dari BNPB sebesar Rp300 juta, serta tambahan dari APBD NTB sebesar Rp700 juta. "Dana-dana tersebut kami gunakan untuk pengadaan air dan operasional mobil tangki, yang dapat mendistribusikan sekitar 2.000 tangki air," kata Ahmadi. Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan bahwa potensi kekeringan di NTB dapat meluas karena puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September 2024. Pada dasarian kedua bulan September 2024, potensi curah hujan di wilayah NTB dilaporkan sangat rendah, dengan intensitas hujan yang ringan hingga sedang hanya terjadi di beberapa lokasi terbatas. ANTARA