JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Tenaga Profesional Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi dari Lembaga Ketahanan Nasional, Edy Prasetyono, menyatakan bahwa selama sepuluh tahun terakhir, Presiden Joko Widodo telah berdedikasi untuk memajukan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam konteks strategi geopolitiknya. Edy mengungkapkan bahwa fokus utama yang disampaikan oleh Jokowi selama satu dekade ini adalah mensinergikan kepentingan nasional Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas utama. Hal ini disampaikan Edy dalam kegiatan yang berlangsung di Jakarta Geopolitical Forum 2024. Dia menambahkan, pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan hanya mungkin dicapai dalam suasana yang damai dan dengan kerjasama lintas negara. Sehubungan dengan hal itu, Indonesia selalu mengedepankan pentingnya dialog dan komunikasi dengan berbagai kawasan. Lebih lanjut, Edy menjelaskan bahwa Indonesia telah aktif menjalin interaksi dengan berbagai negara yang terlibat dalam dinamika geopolitik regional. Menurutnya, langkah-langkah ini menunjukkan pendekatan yang terarah dan seimbang, di mana Jokowi berusaha untuk menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Saya kira itu yang paling utama, yang selama ini disampaikan oleh Pak Jokowi,” ujarnya. Edy juga menyampaikan keyakinannya bahwa presiden terpilih, Prabowo Subianto, akan melanjutkan upaya Jokowi dalam memajukan ekonomi Indonesia. Menurutnya, Prabowo memiliki visi yang luas untuk negara. “Bahkan sebelum resmi dilantik, Prabowo telah melakukan kunjungan-kunjungan yang seimbang ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Prancis,” jelasnya. Langkah tersebut mencerminkan kesiapan Indonesia untuk terlibat di berbagai forum internasional dan memperjuangkan kepentingan nasional serta kepentingan kawasan secara keseluruhan. Meskipun pasti ada perbedaan pendekatan antara Prabowo dan Jokowi, Edy menegaskan bahwa posisi Indonesia dalam konstelasi geopolitik tetap akan bersifat bebas aktif. Perbedaan ini mencakup gaya pendekatan Prabowo yang cenderung lebih kosmopolitan, sementara Jokowi lebih menekankan pendekatan berbasis budaya. “Indonesia siap untuk tampil,” kata Edy menutup penjelasannya. ANTARA