JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ahli Cetacea dari James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma Mustika, telah memberikan sejumlah saran yang sangat berguna bagi masyarakat pesisir yang mungkin menghadapi situasi di mana paus terdampar di lingkungan mereka. Dalam sebuah diskusi yang diadakan secara daring, beliau menekankan pentingnya menangani kejadian semacam ini dengan pendekatan yang tepat. Salah satu hal yang paling krusial dalam menangani paus terdampar adalah pengendalian kerumunan, atau *crowd control*. Menurut beliau, sering kali masyarakat berbondong-bondong mendekati hewan tersebut dan melakukan tindakan yang tidak membantu, seperti menaiki atau menarik anggota tubuh paus, alih-alih memberikan pertolongan yang diperlukan. Oleh karena itu, penting untuk membatasi dan mengendalikan kerumunan di sekitar lokasi paus terdampar. Icha, sapaan akrabnya, menyarankan agar masyarakat yang menemukan paus terdampar segera menghubungi aparat keamanan setempat. Dengan adanya garis polisi, penanganan situasi dapat dilakukan dengan lebih terarah. Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk menginformasikan kepada perangkat desa setempat, agar isu ini dapat disampaikan kepada pemangku kepentingan yang berwenang untuk melakukan evakuasi. Ia menambahkan bahwa jika kerumunan dapat dikendalikan dan ada pemimpin masyarakat, situasi bisa diperbaiki dengan membasahi kulit paus menggunakan air, tetapi sangat penting untuk tidak membasahi area di sekitar lubang napas. Icha mengingatkan bahwa tindakan memasukkan air ke dalam lubang napas paus yang dilakukan oleh beberapa orang awam merupakan praktik yang sangat berbahaya. Pasalnya, paus adalah mamalia yang bernapas melalui paru-paru dan bisa menghadapi risiko fatal jika diperlakukan tidak benar. Dalam proses evakuasi paus terdampar, petugas juga harus berhati-hati dan tidak menarik sirip paus, karena bagian ini terdiri dari tulang-tulang lunak yang sangat rawan mengalami cedera serius. Komunitas diharapkan untuk tidak mengganggu atau menaiki tubuh paus yang terdampar, karena kondisi hewan tersebut biasanya mengalami kelemahan dan memerlukan penanganan yang sangat hati-hati. Untuk mencegah terjadinya kasus paus terdampar, Icha menyarankan agar masyarakat yang melihat paus di habitatnya agar menjaga jarak minimal 150 meter. Mereka juga harus mematikan mesin kapal dan memberi waktu pada paus untuk lewat tanpa merasa terancam. Ia mengingatkan bahwa jika masyarakat melihat paus atau lumba-lumba, mereka tidak boleh menghalangi atau membuntuti hewan-hewan tersebut. Perlakuan semacam ini dapat merusak kohesi sosial hewan laut dan berpotensi menyebabkan mereka mengalami kepanikan, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan stres, sakit, bahkan terdampar. Dengan demikian, penanganan yang cermat dan kesadaran akan perlunya menjaga jarak merupakan langkah penting dalam menjaga populasi paus dan keberlangsungan ekosistem laut. ANTARA