JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengidentifikasi empat tantangan utama yang dihadapi oleh Indonesia dalam upaya memajukan hilirisasi. Tantangan ini mencakup pengembangan sumber daya manusia (SDM), perluasan kerja sama internasional, penerapan insentif, serta tekanan yang bersifat eksternal. Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Riyatno, menjelaskan bahwa untuk melaksanakan pengembangan SDM yang efektif, Indonesia memerlukan sekitar 16 ribu tenaga kerja terampil setiap tahunnya. Hal ini penting agar proses hilirisasi dan sektor manufaktur dapat memberikan nilai tambah yang optimal. "Kami memperkirakan bahwa kebutuhan tahunan tenaga kerja kompeten di sektor manufaktur, yang meliputi proses hilirisasi, mencapai angka tersebut," kata Riyatno dalam sebuah pernyataan. Lebih jauh, mengenai tantangan kedua yaitu perluasan kerja sama internasional, Riyatno menekankan pentingnya respons terhadap dinamika politik global. Memperluas kolaborasi akan membantu meningkatkan potensi pasar ekspor produk hilirisasi Indonesia serta menarik minat investasi asing. "Di tengah perkembangan saat ini, terdapat beberapa perjanjian seperti *free trade agreement* dan *Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA)* yang menjadi peluang bagi kita," tambahnya. Tantangan ketiga adalah penerapan insentif yang memadai. Indonesia perlu menciptakan kebijakan yang pro-investor serta memberikan kemudahan terbaik, terutama dalam hal perizinan. Hal ini menjadi kunci untuk menarik lebih banyak investasi. Selanjutnya, Riyatno menjelaskan bahwa tekanan eksternal muncul dari beberapa negara yang menolak kebijakan hilirisasi. Contohnya adalah gugatan yang diajukan oleh Uni Eropa di World Trade Organization (WTO) terhadap Indonesia ketika negara ini memberlakukan larangan ekspor bijih nikel. "Meski ada gugatan tersebut, proses hilirisasi akan terus berlanjut," tegas Riyatno. Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi investasi di sektor pengolahan produk bernilai tambah tinggi atau hilirisasi menunjukkan tren yang positif. Dari tahun 2019 hingga 2023, pencapaian investasi di sektor ini terus meningkat. Pada tahun 2019, BKPM mencatat bahwa investasi di sektor hilirisasi industri logam dasar, barang logam, serta selain mesin dan peralatan hanya mencapai Rp61,6 triliun. Namun, jumlah tersebut meningkat menjadi Rp94,8 triliun pada tahun 2020. Kemudian, tercatat investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp117,5 triliun pada tahun 2021. Angka ini kembali melonjak menjadi Rp171,2 triliun pada tahun 2022, sebelum akhirnya mencapai Rp200,3 triliun tahun lalu. Kendala dan tantangan yang ada dihadapi dengan optimisme demi mencapai target hilirisasi yang telah ditetapkan. ANTARA