JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Negosiasi untuk perjanjian kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Uni Eropa yang dikenal dengan *Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement* (IEU-CEPA) masih menghadapi kendala. Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono, mengungkapkan bahwa proses negosiasi ini belum mencapai kesepakatan akhir karena kedua belah pihak belum menemukan titik temu dalam kebijakan yang diusulkan. Djatmiko menjelaskan bahwa terdapat sejumlah isu yang berkaitan dengan kebijakan yang belum sepenuhnya teratasi. "Kami masih mencari solusi yang tepat dari isu-isu tersebut. Ini tentu menjadi tantangan bagi kami dalam menyelesaikan kepentingan masing-masing pihak," ucapnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta. Salah satu faktor yang menjadi penghambat dalam proses negosiasi ini adalah kebijakan mengenai regulasi deforestasi yang diterapkan oleh Uni Eropa, yang dikenal sebagai *European Union Deforestation Regulation* (EUDR). Hingga saat ini, pemerintah Indonesia terus melakukan perundingan dengan pihak Uni Eropa untuk memperjuangkan kelulusan komoditas pertanian yang terkena dampak dari regulasi deforestasi tersebut. Walaupun begitu, kedua belah pihak sudah memiliki kesepakatan dalam beberapa aspek, termasuk penurunan tarif secara bertahap. Selain itu, sektor perdagangan, investasi, dan transparansi dalam hubungan ekonomi juga telah disetujui oleh kedua pihak. "Terkait aspek teknis, kami telah membahasnya dan mencapai kesepakatan. Namun, ada beberapa kebijakan yang masih belum selesai," tambah Djatmiko. Saat ini, perundingan IEU-CEPA telah memasuki tahap ke-19 setelah sembilan tahun proses negosiasi yang tidak kunjung tuntas. Menurut Djatmiko, target untuk menyelesaikan kesepakatan tersebut kemungkinan tidak akan tercapai pada waktu yang ditentukan sebelumnya, yaitu September 2024. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga menambahkan bahwa Uni Eropa seharusnya tidak terus-menerus mengubah standar atau *benchmark* yang ada. "Negosiasi IEU-CEPA sudah mencapai tahap 19. Saya akan menegaskan bahwa jika pihak Eropa terus mengubah kriteria mereka, akan ada batas tertentu," jelasnya. Lebih lanjut, Airlangga juga mengungkapkan bahwa fluktuasi dalam struktur kabinet Uni Eropa menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan keterlambatan dalam mencapai kesepakatan perundingan IEU-CEPA. ANTARA