JAKARTA –
**Borneonews - Washington**, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengemukakan pandangannya mengenai Hamas dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh NBC News. Ia menegaskan bahwa kelompok tersebut bukanlah organisasi teroris, melainkan sebuah entitas perlawanan yang berjuang untuk mempertahankan wilayahnya. Erdogan menyampaikan bahwa sepanjang periode dari 1947 hingga saat ini, Palestina telah mengalami kehilangan tanah secara berulang kali. Hal ini menunjukkan betapa mendalamnya konflik yang dihadapi oleh masyarakat Palestina. Ia menanggapi pertanyaan mengenai kritik yang muncul terhadap Turki karena memberikan perlindungan kepada Hamas, yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Amerika Serikat. Dalam jawaban tersebut, Erdogan menegaskan bahwa Turki secara konsisten menentang segala bentuk terorisme. Sebagai pemimpin yang memahami situasi Hamas, Erdogan menjelaskan bahwa ia tidak pernah menganggap Hamas sebagai organisasi teroris. "Hamas adalah kelompok perlawanan yang berusaha melindungi wilayahnya. Oleh karena itu, bagaimana mungkin saya mengklasifikasikan mereka sebagai organisasi teroris?" ungkapnya. Ketika ditanya mengenai serangan yang dilakukan oleh Hamas terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober lalu, Erdogan menekankan pentingnya memahami latar belakang insiden tersebut. "Kita perlu menyelidiki apa yang menjadi penyebab terjadinya serangan pada 7 Oktober. Penting bagi kita untuk memahami situasi tersebut secara mendalam," jelasnya. Ia menambahkan bahwa data mengenai jumlah warga Palestina yang menjadi korban perlu diperhatikan, mengingat situasi yang sudah mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan. Erdogan juga menyatakan dukungan kuat Turki terhadap solusi dua negara mengenai konflik Israel-Palestina. Ia menegaskan perlunya pembentukan negara Palestina yang berdaulat dan merdeka, dengan batas wilayah yang diakui pada tahun 1967, serta menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Sejak terjadinya serangan lintas batas oleh Hamas pada bulan Oktober tahun lalu, Israel telah melanjutkan serangan yang brutal di Gaza. Meskipun Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa merekomendasikan gencatan senjata, serangan tersebut terus berlanjut. Data menunjukkan bahwa hampir 41.500 orang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak, telah kehilangan nyawa, sementara sekitar 96.100 orang lainnya mengalami luka-luka akibat konflik tersebut. Kondisi di wilayah Gaza semakin memprihatinkan, dengan hampir seluruh penduduk terpaksa mengungsi akibat konflik yang berkepanjangan dan blokade yang masih berlangsung. Ini menyebabkan kelangkaan bahan pangan, air bersih, serta obat-obatan yang sangat dibutuhkan. Dalam konteks lain, Erdogan juga ditanya mengenai ambisi Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Ia menyatakan bahwa Turki akan mempertimbangkan pandangan semua anggota NATO terkait isu tersebut. Erdogan mengungkapkan bahwa tidak semua negara anggota NATO mendukung keanggotaan Ukraina, dan penting agar semua fakta dipertimbangkan secara cermat sebelum mengambil keputusan. "Keputusan mengenai keanggotaan Ukraina di NATO tidak boleh dibuat dengan tergesa-gesa," tegas Erdogan. Ia menambahkan bahwa keputusan akhir akan ditentukan setelah mempertimbangkan posisi semua negara anggota. Ukraina sendiri secara terbuka telah mengungkapkan keinginannya untuk memasuki aliansi NATO. Meskipun NATO belum memberikan tawaran resmi untuk keanggotaan Ukraina, hubungan aliansi tersebut dengan Kiev telah terjalin lebih erat sejak dimulainya konflik dengan Rusia pada Februari 2022. ANTARA