**Borneonews - Jakarta**, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Pahala Mansury, menyerukan negara-negara lain untuk bersinergi dalam pengembangan *ekonomi biru* di Laut China Selatan. Inisiatif ini diharapkan dapat mencegah kawasan tersebut berubah menjadi medan pertempuran global bagi negara-negara besar.
"ASEAN telah menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat kerja sama regional dalam pengembangan *ekonomi biru*," jelas Pahala saat berbicara dalam Jakarta Geopolitical Forum 2024 pada Rabu lalu. Dia menekankan perlunya melibatkan negara-negara terkait, termasuk China, dalam upaya ini agar potensi Laut China Selatan dapat dioptimalkan.
Pahala menjelaskan bahwa pengembangan *ekonomi biru* di kawasan tersebut dapat memperkuat ketahanan rantai pasokan dan mendorong pertumbuhan industri. Dalam konteks tersebut, terdapat tiga prinsip utama yang menjadi pedoman, yaitu nilai tambah (*value addition*), inklusifitas, dan keberlanjutan.
Kerangka kerja ini berdasarkan strategi utama *ekonomi biru* ASEAN, seperti Manajemen Konservasi Biru, Sains, Teknologi dan Inovasi Biru, serta penciptaan nilai tambah dalam sektor-sektor prioritas. Laut China Selatan memiliki banyak potensi yang patut dicatat, di antaranya adalah posisi geografisnya yang strategis sebagai salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, dengan sepertiga dari lalu lintas maritim global melalui daerah ini.
Lebih jauh, ia menyoroti potensi sumber daya alam yang melimpah di Laut China Selatan. Laut ini berkontribusi sebesar 12 persen terhadap total tangkapan ikan dunia serta diperkirakan menyimpan sekitar 11 miliar barel minyak dan 190 triliun kaki kubik gas alam.
Keanekaragaman hayati di Laut China Selatan juga tidak bisa diabaikan, di mana lebih dari 6.500 spesies laut ditemukan, termasuk 22 persen dari spesies ikan secara global dan sepertiga dari spesies terumbu karang di seluruh dunia. "Oleh karena itu, kerja sama yang saling menguntungkan, bukan konflik dan persaingan, seharusnya menjadi karakteristik utama kawasan Laut China Selatan," ucap Pahala.
Ia berharap Laut China Selatan tidak dijadikan sebagai pemisah, melainkan sebagai penghubung antar pulau, masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan semangat kebersamaan antarnegara, diharapkan tercipta kedamaian dan kesejahteraan yang dapat dinikmati bersama.
"Ini bukanlah arena kompetisi. Kita tidak perlu menekankan perbedaan posisi geopolitik yang ada, serta menjauhkan diri dari perpecahan antarbangsa dan negara, sehingga Laut China Selatan tidak menjadi medan perang selanjutnya," tegas Pahala.
ANTARA
Pengembangan Ekonomi Biru di Laut China Selatan untuk Perdamaian
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Komentar (0)
Memuat komentar…







