JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Amerika Serikat memberikan peringatan kepada Israel mengenai potensi konsekuensi dari serangan terhadap Hizbullah. Para pejabat AS menyebutkan bahwa tindakan semacam itu dapat merusak upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik dan berisiko memicu perang di kawasan tersebut. Sebelum serangan udara yang dilancarkan oleh Israel terhadap Hizbullah, pihak AS telah mengingatkan pemerintah Israel akan kemungkinan dampak negatif dari strategi yang diambil. Peringatan tersebut menyatakan bahwa tindakan militer terhadap Lebanon dapat menghalangi jalan untuk mencapai solusi damai yang masih mungkin dilakukan. Meskipun demikian, pemerintah Israel menunjukkan pandangan yang berbeda dalam mencapai perdamaian. Mereka berpendapat bahwa situasi memerlukan "eskalasi untuk meredakan ketegangan," yang menunjukkan keinginan untuk melancarkan tindakan lebih lanjut. Dari perspektif Israel, serangan terhadap Hizbullah dianggap sebagai cara untuk mendorong kelompok tersebut agar lebih aktif dalam negosiasi untuk mengakhiri konflik. Pada tanggal 23 September, Israel melaksanakan serangan besar-besaran yang menargetkan daerah selatan dan timur Lebanon, yang mengakibatkan jumlah korban tewas meningkat menjadi 558, menurut keterangan Menteri Kesehatan Lebanon, Firass Abiad. Sebagai balasan atas serangan ini, pejuang Hizbullah menembakkan sejumlah roket ke wilayah utara Israel. Sebelumnya, antara 17 hingga 18 September, kejadian meledaknya ribuan perangkat seperti *walkie-talkie* di berbagai lokasi di Lebanon juga menewaskan lebih dari 40 orang dan mengakibatkan hampir 3.500 orang lainnya terluka. Hingga kini penyebab dari ledakan yang terjadi secara bersamaan itu belum bisa dipastikan. Terkait insiden tersebut, Hizbullah serta otoritas Lebanon menempatkan tuduhan kepada Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab. Namun, Presiden Israel, Isaac Herzog, menampik tuduhan keterlibatan negara tersebut dalam kejadian yang merugikan banyak jiwa itu. Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon semakin meningkat setelah dimulainya operasi militer Israel di Jalur Gaza pada bulan Oktober 2023. Sejak saat itu, bentrokan antara militer Israel dan pejuang Hizbullah terjadi hampir setiap hari di sepanjang garis perbatasan, menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan dan stabilitas kawasan. ANTARA