JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Peneliti dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ratna Indrawasih dan Widya Safitri, telah mempresentasikan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam proses pembuatan kapal tradisional asal Sulawesi Selatan, yakni Kapal Pinisi. Ratna menjelaskan bahwa masyarakat pesisir di Distrik Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, sangat menjunjung tinggi budaya maritim dan dikenal sebagai pengrajin kapal. Nilai kearifan lokal ini tidak hanya tercermin dalam metodologi navigasi pelayaran, tetapi juga dalam seni pembuatan Kapal Pinisi itu sendiri. "Tradisi pembuatan Kapal Pinisi telah bertahan lama, di mana ilmu dan keahlian ini diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi," jelas Ratna saat membagikan hasil penelitiannya secara daring dalam event International Forum on Spice Route 2024, yang berlangsung pada hari Rabu. Keahlian masyarakat Bontobahari dalam membuat Kapal Pinisi, merupakan hasil perpaduan antara kemampuan berlayar dan navigasi yang dipengaruhi oleh elemen-elemen alam serta norma-norma kearifan lokal yang dianut. Ia mempertegas bahwa para pengrajin Kapal Pinisi di Desa Ara percaya bahwa nasib sebuah kapal lebih menentukan arah keberuntungan daripada kepemilikannya. Dalam pandangan masyarakat ini, memiliki Kapal Pinisi dapat membawa sial, seperti tenggelamnya kapal di laut atau terjadinya bencana cuaca yang tidak terduga. Widya, yang juga terlibat dalam pemaparan, menambahkan bahwa proses pembuatan Kapal Pinisi melibatkan beberapa peran penting yang berkaitan dengan adat. Salah satu posisi yang diutamakan adalah *panrita lopi*, sosok yang memiliki keahlian teknis dan magis, serta bertanggung jawab untuk menjaga tradisi. Selanjutnya, terdapat *pangkaha*, yang memiliki tugas mengawasi aspek-aspek teknis dalam pembuatan kapal, dan *sawi*, yang membantu dalam proses konstruksi itu sendiri. Durasi pembuatan kapal dapat berkisar antara tiga hingga empat bulan, tergantung pada ukuran kapal yang dibuat. Agar semua proses dapat berlangsung dengan baik dan terhindar dari berbagai malapetaka, masyarakat setempat melaksanakan upacara Anantara saat tahap penyatuan lunas kapal. Upacara ini memiliki makna simbolis sebagai tanda kelahiran kapal yang baru. "Upacara Anantara menggambarkan penyatuan figur ayah dan ibu, yang melahirkan 'janin kapal' yang nantinya akan menjadi 'bayi kapal'," ungkap Widya. Sebelum Kapal Pinisi diluncurkan ke laut, masyarakat Bontobahari juga menggelar upacara adat yang dikenal sebagai Barzanji. Upacara yang selalu dilakukan pada hari Jumat ini mencakup pembacaan doa-doa sebagai penolakan atas bencana dan permohonan keselamatan selama pelayaran kapal baru. "Ritual tradisional ini memiliki makna signifikan baik dalam proses pembuatan maupun peluncuran kapal, meskipun terdapat kemungkinan preferensi dari pemesan kapal dapat memengaruhi pelaksanaan upacara tersebut," ujar Widya. ANTARA