JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan bahwa penguasaan ilmu *intelijen strategis* sangat krusial untuk memperkuat upaya pencegahan serta penanggulangan penyalahgunaan obat dan makanan di era modern ini. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam sebuah pernyataannya menyebutkan bahwa saat ini kita hidup dalam suatu periode globalisasi, di mana batas-batas negara semakin kabur akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri dalam sistem pengawasan yang dijalankan oleh BPOM, terutama dalam sektor intelijen yang diharapkan dapat beroperasi secara lintas negara. “Peran intelijen sangat penting di sini, karena bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi crucial yang bisa mendukung pencegahan penyalahgunaan obat serta makanan. Ini termasuk langkah-langkah untuk menghentikan peredaran produk ilegal sebelum mencapai masyarakat,” ungkap Taruna Ikrar. Dalam konteks tersebut, dia juga mencermati tantangan yang dihadapi BPOM, terutama berkaitan dengan munculnya sistem *Artificial Intelligence (AI)* yang berdampak pada pola distribusi produk obat dan makanan secara daring. Taruna Ikrar menjelaskan bahwa BPOM kini memiliki 76 Unit Pelaksana Teknis (UPT), dan dia berharap seluruh unit ini dapat melaksanakan fungsi intelijennya secara optimal. Sebagai langkah nyata dalam menjawab tantangan tersebut, BPOM menyelenggarakan Lokakarya Intelijen Strategis yang berlangsung selama dua hari. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas intelijen, khususnya dalam aspek manajerial yang ada di bidang obat dan makanan, sehingga operasional intelijen dapat terlaksana dengan lebih efektif dan efisien. “Pengembangan kemampuan tidak hanya terfokus pada *soft skills*, seperti keterampilan berpikir kritis, tetapi juga pada *hard skills* yang mendukung kemampuan psikomotorik,” sambung Taruna Ikrar. Dalam lokakarya itu, terdapat beragam materi yang diajarkan, mencakup konsep dasar intelijen, manajemen penyelidikan, aspek pengamanan, teknik penggalangan, pemanfaatan teknologi untuk *profiling*, pembangunan jaringan intelijen, hingga isu bioterorisme yang berkaitan dengan obat dan makanan. Selain itu, pemanfaatan AI dalam penyidikan juga menjadi salah satu fokus pembahasan. Dia berharap agar lokakarya ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh peserta, sehingga pengetahuan mengenai *intelijen strategis* dapat dikuasai dengan baik. Hal ini diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat dari risiko terkait produk obat dan makanan yang tidak aman serta potensi tindakan yang dapat membahayakan kesehatan umum. ANTARA