JAKARTA –
**Borneonews - Istanbul**, Jepang mengungkapkan ketidakpuasan terhadap tindakan China yang diduga tidak memberikan pemberitahuan sebelumnya tentang pengujian rudal balistik antarbenua (*ICBM*) yang diluncurkan ke Samudera Pasifik pada Rabu pagi. Pihak Jepang menyatakan bahwa penerapan kebijakan ini menunjukkan meningkatnya kegiatan militer yang menjadi kekhawatiran serius bagi keamanan kawasan. Juru bicara pemerintah Jepang yang juga menjabat sebagai Kepala Sekretaris Kabinet, Yoshimasa Hayashi, menyampaikan pandangannya dalam sebuah konferensi pers yang dilaksanakan di Tokyo. Ia menekankan bahwa Jepang akan terus meningkatkan aktivitas pengawasan pasca-ujicoba yang dilakukan oleh China, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Kyodo yang berbasis di Tokyo. Pada hari yang sama, Kementerian Pertahanan China mengkonfirmasi bahwa Pasukan Roket mereka telah melakukan uji coba ICBM di Samudera Pasifik. Menurut keterangan resmi, pengujian ini berhasil dilakukan dengan menggunakan hulu ledak kosong. Rudal tersebut dilaporkan jatuh di kawasan yang telah ditentukan dalam perairan internasional. Menyikapi aksi tersebut, Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa kegiatan ini sesuai dengan hukum dan praktik internasional. Lebih lanjut, mereka menekankan bahwa uji coba ini tidak ditujukan kepada negara atau target tertentu. Sumber dari harian *South China Morning Post* mengungkapkan bahwa peluncuran ICBM ini merupakan yang pertama dilakukan oleh Beijing setelah 44 tahun lamanya. Di sisi lain, kementerian bersangkutan mengklaim bahwa mereka telah memberi tahu semua negara yang relevan sebelum peluncuran sebagai bagian dari rencana latihan tahunan Pasukan Roket. Keberadaan berita ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang efektif dalam konteks keamanan internasional dan potensi dampaknya terhadap hubungan antara negara-negara di kawasan tersebut. ANTARA