BORNEONEWS, Kotim - Kesadaran masyarakat Kotim ikut program Keluarga Berencana (KB) semakin tinggi. Masyarakat secara sukarela mengatur jarak kelahiran menggunakan alat kontrasepsi, mengikuti program KB, salah satunya pemasangan  implan. Kegiatan pemasangan implan KB ini dilaksanakan di dua desa, Patai, Kecamatan Cempaga, Senin (8/8/2016), dan Desa Cempaka Mulia Barat, Selasa (9/8/2016).

“Kegiatan pemasangan implan ini salah satu program Keluarga Berencana. Implan, merupakan alat kontrasepsi dengan jangka waktu panjang mencapai tiga tahun,” kata Kepala Bidang KB dan KS, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kotawaringin Timur, Wiyono, Selasa (9/8/2016).

Menurut Wiyono, Kecamatan Cempaga merupakan kecamatan yang seringkali melaksanakan pelayanan pemasangan implan. Hal ini dikarenakan, tinggi kesadaran masyarakat, sehingga banyak yang berminat. Selain itu, keaktifan BPP KB Cempaga dan kader binaan untuk mencari akseptor.

“Untuk Kecamatan Cempaga, di tahun 2016 ini sudah dua kali melaksanakan pemasangan implan dan bergantian setiap desa,” jelasnya.

Dari dua kali kegiatan pemasangan implan ini, diikuti 87 akseptor atau pengguna alat kontrasepsi. Dimana, untuk Desa Patai terdapat 47 akseptor dan Desa Cempaka Mulia Barat terdapat 41 akseptor.

Kegiatan pemasangan implan ini dilaksanakan secara gratis, tidak dipungut biaya. Pelaksanaan pemasangan implan di Desa Patai dipusatkan di Poskesdes Patai, sementara CMB di Puskesmas Cempaka Mulia Barat.

“Kalau untuk pelaksanaan di Desa Patai meliputi warga Desa Luwuk Ranggan dan Rubung Buyung, sementara di Desa Cempaka Mulia Barat untuk masyarakat di Desa Sungai Paring, Cempaka Mulia Timur, Luwuk Bunter dan Jemaras,” jelas Kepala UPT BPP KB Kecamatan Cempaga Hartoyo.

Sementara, Incih, warga Desa Luwuk Ranggan mengungkapkan keinginannya menggunakan alat kontrasepsi implan, dikarenakan jangka waktunya panjang. Selain itu, alat kontrasepsi ini juga aman dengan pemasangan yang sebentar dan tidak sakit. “Implan ini jangka waktunya sampai tiga tahun, kalau pil KB dan suntik harus bolak-balik ke bidan terus. Anak saya juga sudah tiga, susah kalau punya anak lagi.” (RAFIUDIN/N).