PALU –
**Borneonews - Palu**, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menerima dana sebesar 2,8 juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung program *Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation* atau yang lebih dikenal dengan sebutan REDD+. Ini merupakan langkah penting dalam upaya pengurangan emisi yang dihasilkan dari deforestasi dan degradasi hutan. Dalam inaugurasi Workshop Penguatan Arsitektur REDD+ yang berlangsung di Kota Palu, Penjabat Sementara Gubernur Sulawesi Tengah, Novalina, mengajak semua pihak untuk menunjukkan komitmen yang kuat dan fokus dalam menyukseskan implementasi program REDD+ di wilayah ini. Ia mengharapkan agar semua janji yang diucapkan bukan hanya sekadar *lip-service*, tetapi harus disertai dengan tindakan nyata dalam mengendalikan perubahan iklim. Hal ini termasuk penurunan emisi gas rumah kaca serta pengembangan ekonomi hijau yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Salah satu skema yang diterapkan dalam mekanisme REDD+ adalah *Results-Based Payment* (RBP) yang memberikan insentif ke daerah atas komitmen mereka dalam pengurangan emisi melalui kegiatan konservasi hutan. Sulawesi Tengah, yang memiliki luas kawasan hutan lebih dari 4,27 juta hektare, menjadi provinsi kelima di Indonesia yang mendapatkan alokasi insentif dalam bentuk dana RBP REDD+ sebesar 2,8 juta dolar AS. Novalina mengapresiasi kegiatan ini sebagai forum yang sangat konstruktif untuk menghasilkan solusi dan rekomendasi dalam pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan. Ia menyatakan pentingnya menyeimbangkan antara investasi dan upaya konservasi sehingga masyarakat dapat merasakan kesejahteraan sementara lingkungan tetap terlindungi. Selain itu, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yulia Suryanti, menyampaikan harapannya agar Sulawesi Tengah dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pelaksanaan program REDD+. Dia menekankan bahwa provinsi ini telah memiliki potensi besar dalam menyukseskan program tersebut, mengingat luasnya kawasan hutan yang dikelola. Yulia menambahkan bahwa hanya daerah-daerah tertentu yang dipilih untuk menerima alokasi pendanaan RBP-REDD+, sehingga kesempatan ini menjadi peluang bagi Sulawesi Tengah untuk membuktikan kapasitasnya. Ia berharap arsitektur REDD+ yang kuat dapat terbentuk dari kegiatan yang berlangsung, sehingga aliran dana tersebut dapat memberikan dampak positif baik bagi lingkungan maupun masyarakat yang tinggal di sekitarnya. ANTARA