BANDUNG –
**Borneonews - Bandung**, Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin, menyatakan bahwa dirinya akan melakukan konfirmasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait isu adanya kewajiban kerja paruh waktu bagi mahasiswa penerima beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT). Pernyataan ini disampaikan Bey saat ditemui di Sudirman Grand Ballroom. Hingga saat ini, Bey belum memiliki informasi yang lengkap mengenai masalah ini. Dia berniat untuk menanyakan lebih lanjut apakah terdapat perjanjian atau honorarium yang terkait dengan beasiswa tersebut. "Saya akan menanyakan terlebih dahulu, apakah ada perjanjian yang dilakukan ataupun honor yang diberikan. Saya tahu bahwa tidak semua mahasiswa harus bekerja; mungkin ada yang tidak mampu atau berprestasi. Ini semua masih perlu klarifikasi dari pihak terkait," ujarnya. Sementara itu, Fidela Marwa Huwaida, Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, menjelaskan bahwa isu ini muncul setelah terbukanya informasi dalam bentuk e-mail dari Direktorat Pendidikan. Email tersebut mengindikasikan adanya kewajiban bagi seluruh mahasiswa ITB yang menerima beasiswa UKT untuk mendaftar sebagai calon asisten, khususnya asisten untuk mata kuliah. "Kewajiban ini mencakup pendaftaran sebagai prioritas asisten mata kuliah," kata Fidela. Dia mengungkapkan bahwa ITB telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan penerima beasiswa UKT untuk memberikan kontribusi pada kampus lewat kerja paruh waktu. Kegiatan ini meliputi peran sebagai asisten mata kuliah atau praktikum, tugas administratif di fakultas atau program studi di bawah Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan (WRAM), serta membantu bimbingan akademis dan memberikan tutorial kepada mahasiswa yang membutuhkan. Mahasiswa yang bersangkutan diwajibkan untuk mendaftar melalui formulir yang telah disediakan. "Kebijakan ini menjadi kontroversial karena terlihat bahwa ITB 'tidak ikhlas' dalam memberikan keringanan UKT untuk mahasiswa. Padahal, hak mahasiswa adalah mendapatkan pendidikan dengan biaya yang terjangkau," tegas Fidela. Fidela juga menyebutkan adanya kemungkinan evaluasi ulang terhadap proses pengajuan keringanan UKT yang diajukan oleh para mahasiswa. "Hal ini juga menunjukkan ketidakikhlasan ITB dalam memenuhi tanggung jawabnya untuk menyediakan pendidikan yang layak," ujarnya. Tanggapan dari ITB datang melalui Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Naomi Haswanto. Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk memberikan peluang bagi mahasiswa penerima beasiswa UKT agar dapat berkontribusi pada pengembangan kampus serta memperoleh pengalaman kerja yang relevan. "Kami baru saja meluncurkan sistem bantuan keuangan mahasiswa yang lebih komprehensif dan berorientasi pada pengembangan karakter. Sistem ini kami sebut *Financial Aids System*, yang bertujuan untuk mengintegrasikan berbagai sumber daya dan program bantuan keuangan yang sudah ada di ITB," ujar Naomi. Dia menambahkan, sistem ini akan menyatukan berbagai program bantuan, termasuk beasiswa, keringanan UKT, hibah, dan kerja paruh waktu, serta layanan pendukung lainnya. "Kami ingin mendidik mahasiswa yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, adaptif, berintegritas, dan rendah hati. Skema kerja akan disesuaikan berdasarkan kondisi ekonomi mahasiswa, kebutuhan fakultas atau sekolah di ITB, beban studi mereka, serta jadwal kuliah." Naomi juga mengungkapkan bahwa mahasiswa penerima beasiswa dapat berpartisipasi dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk mendukung pelaksanaan program-program organisasi mahasiswa. Penurunan UKT, katanya, ditetapkan berdasarkan kualifikasi ekonomi mahasiswa. Jika penurunan tersebut dirasa masih memberatkan, mahasiswa memiliki opsi untuk memilih program bantuan keuangan alternatif. Yang terpenting, lanjut Naomi, adalah agar kebijakan bantuan keuangan ini tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga mendorong dan mengedukasi mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam kegiatan akademik maupun pendukung. "Dengan begitu, mahasiswa penerima bantuan akan berperan dalam menciptakan suasana akademik yang positif di ITB dan memperkaya pengalaman mereka untuk masa depan," jelasnya. Sebagai penutup, Naomi menegaskan bahwa ITB tetap membuka diri terhadap masukan yang konstruktif dari mahasiswa serta pihak terkait lainnya dan berkomitmen untuk mengedepankan transparansi dalam setiap kebijakan yang diambil. ANTARA