JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Investasi melaporkan bahwa dalam lima tahun terakhir, terdapat peningkatan yang signifikan dalam realisasi investasi di sektor hilir di Indonesia. Menurut Riyatno selaku deputi pengembangan iklim investasi di kementerian tersebut, mencatat bahwa pada tahun 2019, realisasi investasi pada industri logam dasar, barang logam, serta hilirisasi non-mesin dan peralatan hanya mencapai Rp61,6 triliun. Namun, pada tahun 2020, nilai tersebut mengalami lonjakan yang cukup pesat menjadi Rp94,8 triliun. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas investasi di sektor industri hilir, sebagaimana disampaikan oleh Riyatno dalam konferensi pers pada hari Rabu. Beralih ke tahun 2021, realisasi investasi dalam sektor hilirisasi mencatat angka Rp117,5 triliun. Tahun berikutnya, jumlah tersebut melonjak menjadi Rp171,2 triliun. Puncaknya, pada tahun lalu, total investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp200,3 triliun. Menurut Riyatno, pertumbuhan ini disebabkan oleh semakin banyaknya investor yang melihat potensi besar dalam pengembangan industri pengolahan di Indonesia. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Indonesia memiliki cadangan bahan baku yang cukup melimpah. Mohamad Faizal, Direktur Hilir Perkebunan, Kelautan, Perikanan, dan Kehutanan di Kementerian Investasi, menambahkan bahwa Indonesia memproduksi bahan baku yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan industri global. Menurut data yang disampaikan, Indonesia memiliki 21 persen dari cadangan nikel dunia, 16,3 persen cadangan timah global, 3 persen dari cadangan tembaga, serta 4 persen dari cadangan bauksit, dan dikenal sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Faizal menegaskan, "Potensi nikel kita adalah yang terbaik di dunia, timah kita berada di posisi kedua global, bauksit berada di posisi keenam. Produk minyak kelapa sawit, kelapa, dan karet kita masuk dalam jajaran teratas global, sedangkan udang berada di urutan ketiga, tuna, skipjack, dan mackerel juga nomor satu di dunia, sementara kepiting menempati posisi kedua." Dengan potensi yang melimpah ini, sektor hilir di Indonesia diproyeksikan akan terus berkembang, menarik lebih banyak investor untuk berpartisipasi dalam industri yang menjanjikan ini. ANTARA