**Borneonews - Hamiltaon, Kanada**, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai potensi eskalasi lebih lanjut dari konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina. Dalam pernyataannya, yang disampaikan pada sesi tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di Ukraina, Guterres menekankan pentingnya untuk memutus siklus kekerasan yang telah membawa penderitaan mendalam bagi rakyat di kedua negara.
Guterres menyoroti bahwa PBB didirikan berdasarkan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan semua negara anggotanya. Ia menegaskan bahwa Piagam PBB jelas menyatakan bahwa setiap negara diharuskan untuk menahan diri dari tindakan kekerasan yang dapat mengancam integritas teritorial negara lain. Ia menandaskan bahwa invasi besar-besaran yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina pada bulan Februari 2022, setelah terjadinya aneksasi ilegal terhadap Republik Otonom Krimea dan Kota Sevastopol satu dekade sebelumnya, merupakan pelanggaran mencolok terhadap prinsip-prinsip tersebut.
Menyikapi situasi tragis yang terjadi di Ukraina, Guterres mengungkapkan keprihatinannya terhadap semakin meningkatnya jumlah korban jiwa akibat perang ini. Ia mencatat bahwa hampir 10 juta orang di Ukraina terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik yang berkepanjangan. Dalam pernyataan yang sama, ia juga mengecam keras semua serangan terhadap warga sipil serta infrastruktur sipil yang seharusnya dilindungi.
Sekretaris Jenderal PBB meminta peningkatan bantuan kemanusiaan untuk Ukraina, dimana saat ini diperkirakan sekira 15 juta orang membutuhkan bantuan. Dari jumlah tersebut, lebih dari setengahnya adalah wanita dan anak-anak. Guterres menambahkan bahwa hingga saat ini, sudah 11 ribu warga sipil kehilangan nyawa mereka akibat perang, dan ia memperingatkan bahwa semakin lama konflik ini berlanjut, semakin besar kemungkinan terjadinya eskalasi serta dampak negatif yang lebih luas.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa kelanjutan perang Rusia-Ukraina dapat semakin memperdalam ketegangan serta perpecahan di tingkat global. Guterres menggarisbawahi bahwa adalah tanggung jawab semua pihak untuk menghentikan penderitaan yang dialami, dengan tujuan utama demi rakyat Ukraina, rakyat Rusia, serta seluruh komunitas internasional.
Lebih lanjut, Guterres mencatat bahwa beberapa inisiatif, seperti *Black Sea Grain Initiative* dan upaya pertukaran tahanan, menunjukkan bahwa diplomasi dapat berhasil bahkan di saat-saat yang paling sulit, asalkan ada kemauan politik. Oleh karena itu, ia menyerukan peningkatan upaya menuju perdamaian di Ukraina dan menegaskan kembali komitmen PBB untuk mendukung segala upaya dalam mencapai tujuan tersebut.
ANTARA
Guterres peringatkan risiko perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Klinik Bersalin di Palangka Raya Bisa Terbitkan KIA hingga Perubahan KK untuk Anak Baru Lahir
Maidi Divonis 5 Tahun dalam Perkara Pemerasan Berkedok CSR
Harga Cabai Rawit Merah Rp90 Ribu per Kg, Pemkab Kobar Siapkan Bantuan Bibit
OJK Gencar Edukasi Keuangan di Kalangan Pemuda Cegah Rekening Dormant
Kemlu Pastikan Seluruh Jamaah Umrah Aman di Tengah Eskalasi Konflik
Ginting Harus Mengakui Keunggulan Richie Duta di Indonesia Masters
Komentar (0)
Memuat komentar…







